Selasa, 26 Agustus 2008

Kuncinya Penguasaan Iptek

Kuncinya Penguasaan Iptek

Sudah bukan jamannya lagi sistem ekonomi klasik yang hanya mengandalkan faktor produksi yaitu modal, tenaga kerja, bahan mentah dan kewirausahaan. Maka pada sistem ekonomi baru, pengetahuan adalah kunci utamanya.

Bangsa ini masih tertinggal dan belum juga bangkit dari keterpurukan. Bahkan dibandingkan negara-negara ASEAN, Indonesia kini harus mengaku kalah. Kurangnya penghargaan bangsa ini terhadap ilmu pengetahuan, dikatakan sebagai penyebab utamanya. Tidak mengherankan, jika masih banyak ditemui masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan yang layak, atau bahkan masih buta huruf.

Lebih menyedihkan lagi apabila melihat peringkat Indonesia dalam daya saing global. Dari 55 negara yang tercantum dalam IMD World Competitivenes Yearbook 2008, Indonesia hanya menempati urutan 51. Meskipun mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya di peringkat 54, Indonesia tahun ini masih berada diposisi terendah, bahkan dibanding negara-negara ASEAN lainnya. Singapura menduduki posisi tertinggi diurutan kedua dibawah Amerika Serikat. Malaysia menempati urutan 19 serta Thailand menduduki urutan 27. Ini membuat keprihatinan tersendiri. Untuk itulah guna meningkatkan daya saing, pemanfaatan ekonomi berbasiskan ilmu pengetahuan mutlak diperlukan.

Menteri Negara Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman menyatakan rahasia negara maju bisa mencapai pertumbuhan ekonomi kemapanan karena korelasi antara ekonomi dan ilmu pengetahuan kuat sekali. Sementara di negara berkembang, korelasi keduanya putus-putus. Oleh sebab itu dia menyatakan sudah seharusnya Iptek menjadi prioritas utama kebijakan negeri ini.

“Hubungan ekonomi dengan Iptek memang seharusnya timbang balik,” katanya kepada Sindo.

Kusmayanto menjelaskan, pentingya peranan Iptek bisa dilihat dari pertumbuhan beberapa negara yang dulu memiliki keadaan yang serupa dengan Indonesia. Sebutlah Korea Selatan (korsel), Malaysia, dan Thailand. Pada tahun 1960-an kondisi ekonomi dan Iptek ketiga negara tersebut serupa dengan Indonesia. Namun saat ini bisa dilihat, jangankan dengan Korea Selatan dan Malaysia, dengan Thailand saja Iptek Indonesia bisa jadi kalah bersaing.

“Mana dulu yang harus didahulukan. Ya Iptek yang harus didahulukan dan caranya bisa macam-macam,” ujarnya.

Mencontoh Korsel, menurut Pak KK- sapaan akrabnya, yang kondisi geografis tanahnya tidak sesubur Indonesia. Kondisi tanah Korsel bebatuan kecuali di wilayah Selatan negeri Gingseng. Maka dikembangkanlah buah pir khas Korsel yang menjadi andalan sektor agribisnis. Akhirnya dalam bidang pertanian Korsel hanya hebat di buah pir. “Kita akan memperkuat beberapa sektor dan kita akan fokus di sana saja bahkan dengan tangan besi,” tandasnya.

Senada Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Zuhal menyatakan sebuah bangsa besar dibangun berbasiskan ilmu pengetahuan. Mantan Menristek era Reformasi ini mengungkapkan bangsa yang memiliki daya saing di dunia internasional adalah bangsa yang memiliki karya. Sementara sebuah karya yang fenomenal tentu bukan lahir tanpa ketekunan dan kerja keras. Bukan pula merupakan budaya serba instan dan keinginan mencapai segala sesuatu dalam waktu sesaat.

Zuhal memaparkan, masyarakat yang berbasis pengetahuan tersebut minimal bisa terbentuk dari lima elemen, yaitu penataan masyarakat, kewiraswastaan, pembentukan pengetahuan, keterampilan, serta pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Sebagai gambaran, tengoklah beberapa negara maju yang begitu mengunggulkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

Berdasarkan catatan Kementrian Riset dan Teknologi (Kemenristek), presentasi biaya penelitian dan pengembangan terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) pada beberapa negara tertinggi ditempati Swedia dengan 3,7%. Kemudian, Finlandia (3,11%), Jepang (3,06%), Amerika Serikat (2,74%),Jerman (2,29%), Prancis (2,18%), Belanda (2,04%), dan Denmark (2,00%). Sementara di Indonesia, anggaran riset yang dialokasikan pemerintah sejak 1986 hingga 2002 menurun rata-rata 0,18% dari PDB.

Penurunan ini mencolok sekali jika membandingkan antara 1986 sekitar 0,05% dengan 2002 yang hanya 0,03% dari PDB.Pada 2006, anggaran iptek hanya Rp1,76 triliun, sedangkan pada 2007 sedikit meningkat menjadi Rp2,2 triliun. Ironis memang jika melihat alokasi APBN untuk bidang politik yang mencapai puluhan triliun rupiah itu. Perkara lain adalah mengubah cara pandang terhadap lembaga ilmu pengetahuan seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta lembaga riset pengembangan seperti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

“Di negara maju, lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah itu berfungsi membangkitkan kebutuhan masyarakat akan ilmu pengetahuan, penelitian,dan pengembangan,” paparnya.

Masyarakat berbasis pengetahuan, ditambahkan Zuhal, akan mendorong munculnya ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based economy/ KBE). Dalam era persaingan global yang semakin ketat ini,KBE merupakan sebuah kemutlakan. Sebuah komoditas jika tidak inovatif dan menjawab kebutuhan masyarakat tentu akan tergilas persaingan perdagangan bebas. KBE merupakan sistem ekonomi yang penggerak utamanya adalah iptek, mulai produksi, distribusi, hingga elemen ekonomi lainnya. Artinya, kemajuan ekonomi sebuah bangsa tidak bisa terwujud tanpa membangun masyarakat berbasis pengetahuan.

’’KBE merupakan sistem ekonomi yang menciptakan dan menggunakan pengetahuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Senada Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Rokhmin Dahuri menyatakan kemajuan dan kemakmuran bangsa bisa dicapai tidak ada jalan lain kecuali mulai melakukan terobosan. Yakni bagaimana mengaplikasikan teknologi pada sistem industri dan ekonomi nasional. Secara berkesinambungan membangun kapasitas nasional untuk menjadi penghasil (inovator) serta penguasaan teknologi.

“Dengan demikian, secara bertahap tapi pasti, insya Allah kita akan mampu melepaskan ketergantungan pada pihak asing, utamanya pada kapitalis global yang sangat hedonis dan eksploitatif,” ujar Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan ini.

Langkah terobosan tersebut diantaranya penyempurnaan Sistem Manajemen Teknologi Nasional (SMTN) beserta mekanisme kerjanya. Sebagai sebuah sistem, SMTN terdiri dari empat komponen mulai produsen, pengguna, penyandang dana, dan regulator teknologi. Tujuan utama SMTN, kata dia, agar bangsa Indonesia secara mandiri mampu menghasilkan dan mengembangkan teknologi, kemudian mengaplikasikan teknologi tersebut dalam sistem industri dan ekonomi, sehingga menghasilkan barang dan jasa yang kompetitif. (abdul malik/islahuddin/faizin aslam)

2 komentar:

  1. (Dikutip dari: materi Strategic Forum – QPlus Management Strategies 2008)

    Strategi Filsafat Penelitian Milenium III
    (Butanya Dasar Belajar Mengajar: Theory of Everything)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MEREKA (para peneliti – QZ) seakan-akan pelukis yang mengumpulkan tangan, kaki, kepala dan anggota-anggota lain bagi lukisannya dari macam-macam model. Masing-masing bagian dilukis dengan sangat bagus, tetapi tidak dihubungkan dengan satu tubuh sendiri, dan karena sama sekali tidak akan cocok satu sama lain, hasilnya akan lebih merupakan monster daripada manusia (Nicolas Copernicus).

    APAKAH (ilmu) pengetahuan yang terkumpul, dipelajari, dimiliki dan diajarkan selama ini masih berupa monster? Bayangkan sosok gambaran seluruh (ilmu) pengetahuan semesta yang berserakan. Lebih kecil lagi, seluruhnya di satu pustaka. Lebih kecil lagi, di satu cabang ilmu. Lebih kecil lagi, di satu bidang ilmu. Lebih kecil lagi, satu hal sosok gambaran tentang semut, puisi, manajemen atau jembatan saja, terdiri atas potongan kacau banyak sekali. Potongan-potongan tulisan sangat bagus sampai buruk, jelas sampai kabur, dan benar sampai salah besar, yang tak menyatu, tumpang tindih dan bahkan saling bertentangan meski hal yang sama sekalipun. Ini membuat sulit siapa pun meneliti, belajar dan mengajarkan, ditandai dengan polemik panjang.

    Mengapa bisa demikian? Ada analogi menarik cerita lima orang buta ingin mengetahui tentang seekor gajah, yang belum pernah tahu gambaran binatang itu. Selain buta, tubuh mereka berbeda-beda tinggi badannya. Mereka pun berbaris berjajar, menghadap seekor gajah besar yang di keluarkan pemiliknya dari kandang. Orang yang pertama agak tinggi badannya, maju meraba bagian depan memegang belalai dan mengatakan gajah itu seperti ular. Yang kedua sedang badannya, meraba mendapati bagian kaki dan mengatakan gajah seperti pohon kelapa. Yang ketiga tinggi badannya, memegang bagian kuping dan mengatakan gajah seperti daun talas. Yang keempat paling pendek badannya, maju di bawah perut gajah tidak memegang apa-apa dan mengatakan gajah seperti udara. Yang kelima pendek tubuhnya, maju meraba bagian belakang memegang ekor dan mengatakan gajah itu seperti pecut. Tentu, pemahaman gajah sesungguhnya dari kelima orang buta ini akan berbeda bila disodorkan gambar ukiran timbul atau patung kecil seekor gajah sebelumnya.

    Seperti itulah, siapa pun yang hanya memahami satu sudut pandang cabang (ilmu) pengetahuan sebagai gambaran pemecahan suatu masalah, tanpa luasan pandang menyeluruh (ilmu) pengetahuan. Memang, merupakan hukum alam segala sesuatu yang seragam (besar sedikit jumlahnya) makin lama makin beragam (kecil banyak jumlahnya), dan pada tingkat kekacauan dibutuhkan sistem keteraturan untuk memahaminya sebagai satu kesatuan. Tetapi, nampak (hampir) mustahil (karena tenaga, waktu dan biaya terbatas) mempelajari seluruh cabang (ilmu) pengetahuan mendapatkan pemahaman luas dan dalam semesta untuk suatu masalah. Betapa beruntung dunia andai sosok kecil gambaran satu kesatuan the body of science itu ada. Gambaran rangkuman prinsip-prinsip satu kesamaaan semua hal dari sekian banyak perbedaan dalam semesta, sebuah Theory of Everything (TOE).

    JIKA Anda tahu bagaimana alam semesta ini bekerja, Anda dapat mengaturnya (Stephen William Hawking).

    Kemudian, bagaimanakah mengetahui seseorang (dan juga diri sendiri) sebenarnya tergolong buta (karena tanpa TOE) terhadap sosok (ilmu) pengetahuan dimiliki sekarang?

    Dengan sopan dan rendah hati, semua peneliti, pengajar atau siapa pun bidang apa pun harus menanyakan: Apa prinsip dasar asumsi penelitian, belajar dan mengajar (ilmu) pengetahuan yang diteliti, dimiliki atau diberikan? Jika jawaban berupa kalimat retorika atau basa-basi, mungkin ia (dan kita) tergolong masih buta tentang the body of science hal bidang ilmu pengetahuan itu.

    Lalu, apa rangkuman (kecil) prinsip dasar asumsi TOE dalam meneliti, belajar, mengajar dan mengelola ilmu pengetahuan hal apa pun?

    KETIDAKMAMPUAN seseorang untuk menjelaskan idenya secara singkat, barangkali dapat merupakan tanda bahwa dia tidak mengetahui pokok persoalan secara jelas (C. Ray Johnson).

    Ilmu pengetahuan (obyek empiris) dinyatakan benar ilmu pengetahuan selama asumsi dasar diakui, yaitu ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang teratur (systematic knowledge) (pernyataan yang diterima setelah abad XVII) (The Liang Gie, 1997:380). Tanpa asumsi dasar keyakinan adanya keteraturan ini, proses meneliti, belajar mengajar apa pun yang di bangun di atasnya hanyalah potongan-potongan pengetahuan yang tidak efektif, efesien dan produktif. Seperti pernyataan jernih ilmuwan Carl Sagan, bahwa jika kita hidup di atas sebuah planet di mana segala sesuatu tidak pernah berubah, sedikit sekali yang bisa dikerjakan. Tidak ada yang harus dibayangkan, dan tidak akan ada dorongan untuk bergerak menuju ilmu pengetahuan. Namun jika kita hidup di dalam dunia yang tidak bisa diramalkan di mana semua hal berubah secara acak atau dengan cara sangat rumit, kita juga tidak akan bisa menggambarkan semua keadaan. Di sini juga tidak ada ilmu pengetahuan. Tetapi kita hidup di dalam semesta yang berada di kedua keadaan ini. Di alam ini semua keadaan berubah, tetapi mengikuti pola, aturan, atau mengikuti yang kita katakan sebagai hukum-hukum alam.

    Lebih jelas, prinsip dasar asumsi keteraturan ini diurai Jujun S. Suriasumantri (1977:7-9) dengan baik, yaitu obyek empiris (tertentu) itu serupa dengan lainnya seperti bentuk, struktur, sifat dan lain-lain, lalu (sifat) obyek tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu (meski pasti berubah dalam waktu lama yang berbeda-beda), serta tiap gejala obyek bukan bersifat kebetulan (namun memiliki pola tetap urutan sama atau sebab akibat). Akhirnya, saya memastikan rincian prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan ini dalam TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Science, bahwa definisi ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang memiliki susunan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang teratur. (Teratur pada TQZ Scientific System of Science adalah teratur sama dalam fungsi, jumlah, urutan, kaitan, dan paduan menyeluruh di semesta meski hal berbeda apa pun). Sebuah TOE, jawaban masalah dasar dan besar yang menghantui pikiran manusia selama dua ribu tahun atau dua millennium.

    TEORI adalah sekelompok asumsi masuk akal dikemukakan untuk menjelaskan hubungan dua atau lebih fakta yang dapat diamati, menyediakan dasar mantap memperkirakan peristiwa masa depan (JAF Stoner).

    TOE penting sekali dalam meneliti, belajar mengajar dan mengelola bidang apa pun. Memecahkan suatu masalah sulit, tetapi mengenali (fenomena) masalah lebih sulit lagi. Dengan mengetahui dan memahami TOE, sangat membantu mengenali bila berhadapan atau merasakannya. Misal, seseorang telah disodorkan gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan akan lebih mudah untuk mengambil kesimpulan jika suatu saat menghadapi (fenomena) satu atau banyak masalah, meski belum pernah dikenalnya. Jadi, fungsi TOE – pada TQZ Scientific System of Science tak lain sebuah paradigma scientific imagination benchmarking sistematis, berupa metode synectic kreatif menggunakan metafora dan analogi rinci menuntun suatu usaha memilih jalur proaktif terhadap suatu hal dengan memperhatikan fakta dan kemungkinan yang telah diidentifikasi dan dileluasakan, dengan lima dasar (posisi), fase (kualitas) dan level (sempurna). Suatu mental image atau model ilmiah analogi fenomena semesta dalam bentuk keteraturan yang dapat dipahami.

    Contoh sederhana (meski sebagai TOE belum cukup teratur), jika gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan tubuh mahluk hidup sempurna memiliki kepala, dada, perut, tangan dan kaki, sedang lainnya berupa bagian tambahan tubuh. Maka, seseorang yang meyakini dan memahami keteraturan ini akan melihat persamaan fungsi tubuh pada ikan gabus, kupu-kupu, monyet, ular dan burung pipit, selain perbedaan bagian itu. Dengan prinsip dasar asumsi keteraturan itu, tubuh mahluk hidup akan lebih mudah diteliti, pelajari dan diajarkan dengan benar, bahkan terhadap mahluk hidup unik lain yang baru dilihat.

    KARYA seorang ilmuwan berlandaskan keyakinan bahwa alam pada pokoknya teratur. Bukti yang menunjang keyakinan itu dapat dilihat dengan mata telanjang bukan hanya pada pola sarang lebah atau pola kulit kerang, tetapi ilmuwan juga menemukan keteraturan pada setiap tingkat kehidupan (Henry Margenau).

    Bukti monster (ilmu) pengetahuan demikian besar, merugikan dan banyak di sekeliling. Contoh monster-monster itu, dalam seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah di mana-mana tidak menyuguh keteraturan. Misal, bahasan mencipta puisi, cara menulis, atau mendefinisikan sesuatu saja, tanpa jelas kepala, tangan, badan, perut, dan kakinya, bahkan tanpa memastikan yang dijelaskan itu adalah bagian kaki atau kepala. Atau lebih parah lagi, tidak diketahui apakah yang disajikan itu kaki, jari, atau gigi, karena jumlahnya demikian tidak tetap dan berbeda. (Perhatikan kesimpulan utama penyebab masalah dan pemecahannya bidang ilmu hal yang sama sekali pun, bisa satu, dua, tiga, empat, lima, enam, sembilan, tujuhbelas, limapuluhdua, dan seterusnya, belum lagi bicara keteraturan urutan dan kaitan antar penyebab atau antar pemecahan yang disebutkan itu). Apalagi membahas masalah mengenai cara mengatasi krisis pangan, krisis energi atau strategi keunggulan usaha (suatu organisasi, daerah, bahkan negara), pasti monster lebih mengerikan.

    Contoh nyata monster raksasa, menunjukkan belum teraturnya kelompok ilmu sebagai ilmu pengetahuan. Deobold B. Van Dalen menyatakan, dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ilmu-ilmu sosial agak tertinggal di belakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-imu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam artian yang sepenuhnya. Di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu sosial akan berkembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. Menurut kalangan lain adalah tak dapat disangkal bahwa dewasa ini ilmu-ilmu sosial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. (Ilmu dalam Persfektif, Jujun S. Suriasumantri, 1977:134). Juga C.A. Van Peursen, dalam tahap perkembangan ilmu pengetahuan kemajuan bidang ilmu alam lebih besar daripada ilmu kehidupan, dan ilmu kehidupan lebih maju dari ilmu kebudayaan (Strategi Kebudayaan: 1976:184-185). Sedang di dunia akademi, berjuta-juta hasil penelitian seluruh dunia kurang berguna dan sukar maju karena berupa monster maha raksasa, tanpa TOE yang merangkai sebagai satu kesatuan the body of science.

    Akhirnya, bagaimana mungkin (manusia) siapa pun yang terlibat proses meneliti, belajar, mengajar dan menggunakan ilmu pengetahuan sepanjang hidup dapat berpikir tenang, selama prinsip dasar asumsi keteraturan (ilmu) pengetahuannya belum beres? Sebab, jika prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan yang didapat dan diberikan saja kebenarannya meragukan, maka kredibilitas kemampuan, nilai, gelar (dan status) seseorang (dan organisasi) itu pun diragukan. Karena, sebenar atau setinggi apa pun nilai memuaskan didapat dari pendidikan dengan pelajaran bahan yang buruk atau salah, tetaplah buruk atau salah, (setelah mengetahui bagaimana kebenaran suatu hal itu) sebenarnya. Dan, tanpa keteraturan TOE, penelitian dan belajar mengajar, seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah terus menghasilkan monster di mana-mana. Banyak buang tenaga, waktu dan biaya percuma. Fatal dan mengerikan.

    LEBIH baik menjadi manusia Socrates kritis yang tidak puas, daripada menjadi babi tolol yang puas (Henry Schmandt).

    BAGAIMANA strategi Anda?
    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

    BalasHapus
  2. Yth Bp Zain

    Terimakasih atas tanggapannya dan saya sangat beruntung sekali Anda sudi mampir ke blog saya. Sudah sepatutnya saya belajar banyak dari Anda dan teori TQZ. mohon petunjuknya. salam hangat

    BalasHapus

open for discuss, please feel free to comment