Isu Gender di Posisi Puncak
Saturday, 23 August 2008
Penelitian lembaga konsultan sumber daya manusia global menunjukkan kemampuan chief executive officer (CEO) wanita masih di bawah kaum pria.Bias gender di posisi top manajer perusahaan?
Masalah gender sering menjadi perdebatan dalam hal posisi pemimpin, tak terkecuali di negara maju seperti Amerika Serikat (AS). Tidak jarang, di Negeri Paman Sam,masalah yang satu ini muncul dalam posisi CEO. Hasil penelitian Hay Groups (2006) menunjukkan ada perbedaan yang cukup fundamental antara pria dan wanita dalam tingkat ambisi dan motivasi.Penelitian itu menunjukkan bahwa pria 73% lebih tinggi motivasinya dalam bekerja dibandingkan wanita.
Lebih dari separuh responden pria dalam penelitian tersebut (54%) menggambarkan diri mereka sebagai orang yang ambisius dibandingkan dengan responden wanita yang hanya 42% demikian. Selain itu, lebih dari 62% pria ingin menggapai impian mereka ketimbang wanita.
Kemudian dua pertiga (59%) responden pria memulai kariernya sesuai dengan keterampilan dan kemampuan dibandingkan dengan responden wanita yang hanya 41%. Sebab 46% responden wanita percaya bahwa mereka akan menjadi lebih produktif apabila melakukan pekerjaan yang mereka cintai.Sepertiga dari mereka percaya bahwa pendidikan atau pelatihan akan membantu para wanita menjadi lebih produktif.
”Tempat kerja memang tidak lagi hanya menjadi milik pria, tetapi warisan dominasi pria memengaruhi prospek ke depan para wanita karier,” kata Direktur Hay Groups Emmanuel Gobilot. Satu bulan sebelum penelitian Hay Groups dilansir,CNNjuga mengeluarkan daftar 10 eksekutif dengan bayaran tertinggi. Dari 10 eksekutif yang disebutkan, tidak satu pun wanita.
Bahkan CNN mencatat, pria-pria itu meraih bayaran 2-3 kali lipat lebih tinggi dibandingkan gaji yang diperoleh CEO wanita. Sebutlah Safra Catz yang saat itu menjabat sebagai Presiden dan CFO Oracle yang meraih kompensasi gaji sebesar USD26,1 juta per tahun.Catz merupakan CEO wanita yang meraih bayaran tertinggi pada 2005 berdasarkan catatan Equilar Inc.
Tempat kedua diduduki Susan Decker yang saat itu menjabat sebagai CFO Yahoo dengan membawa pulang gaji sebesar USD24,3 juta per tahun. Coba bandingkan dengan penghasilan CEO pria seperti Eugene Isenberg yang menjabat CEO Nabors Industries.Dia mendapatkan gaji sebesar USD71,4 juta per tahun pada 2006.Kemudian CEO Occidental Petroleum Ray Irani yang memperoleh gaji sebesar USD70 juta per tahun pada 2006.
Selanjutnya Chairman dan CEO Yahoo Terry Semel raih USD56,8 juta per tahun.Dari gambaran ini saja sudah menunjukkan ada perbedaan pendapatan antara CEO pria dan wanita. Selain di luar negeri, hal sama pun berlaku di dalam negeri.Menurut Direktur Hay Groups Indonesia Nugroho Irawan, tampaknya hal serupa masih akan terjadi dalam beberapa tahun mendatang.
Meskipun pemimpinpemimpin wanita mulai marak, mereka belum bisa mengimbangi dominasi pria dalam level CEO. Indonesia sendiri memiliki ikon CEO wanita seperti Rini Mariani Soemarno atau lebih dikenal dengan nama Rini Suwandi yang pada 2000 silam menjabat sebagai Presiden Direktur PT Astra Internasional cukup membuat decak kagum banyak orang.
Karena prestasinya Rini akhirnya diberi mandat untuk menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan Kabinet Gotong Royong era Presiden Megawati 2001-2004 silam. Ikon CEO wanita lainnya adalah Eva Riyanti Hutapea yang berhasil menyelamatkan keuangan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (ISM) dari terpaan krisis ekonomi 1998.
ISM yang sedianya merugi hingga Rp1,2 triliun akibat krisis, di tangan Eva berubah untung dan meningkat tiap tahunnya. Hingga akhirnya pengunduran diri Eva diterima Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 2004 silam. Eva memimpin ISM pada saat jatuh dan meninggalkannya pada saat jaya. Itulah mengapa Eva dianggap sebagai ikon CEO wanita tangguh di negeri ini.
Meski demikian,untuk menjadi seperti Rini atau Eva tentu bukanlah sesuatu yang mudah.Menurut Nugroho, keberadaan CEO wanita bisa jadi akan semakin marak pada masa mendatang. Sebab saat ini tidak sedikit wanita yang menjabat di jajaran direksi sebuah perusahaan di berbagai sektor industri. Namun ketangguhan wanita dalam memimpin sebuah perusahaan besar masih harus diuji.
”Mungkin ke depannya akan mencapai keseimbangan. Sampai sekarang jumlah CEO wanita dan pria meskipun belum seimbang tetapi persentasenya semakin naik,”ujarnya. Sementara konsultan sumber daya manusia Ade Achmad Rozi menilai, minimnya jumlah CEO di dalam negeri bukan murni diakibatkan isu gender.Tapi, hanya masalah kesempatan dan peluang. Sebab, faktanya, perekrutan seorang top manajer atau CEO bukan atas dasar gender, melainkan karena faktor posisi atau jabatannya terdahulu serta prestasinya di tempat kerja lama.
”Direkrutnya seorang CEO bukan karena gendernya, melainkan karena prestasinya di masa lalu,”ujarnya. Karena itu,bagi wanita karier yang memiliki potensi kemampuan kepemimpinan yang andal tidak menutup kemungkinan akan mencapai puncak karier sebagai CEO. Ade juga sepakat, Rini Suwandi merupakan ikon atau figur CEO wanita andal di negeri ini.
Meski tidak menutup kemungkinan masih banyak wanita tangguh lain, kata dia hingga saat ini Rini masih merupakan figur terbaik sehingga, menurut dia, tidak mungkin ada pembedaan penghasilan antara CEO wanita dan pria di dalam negeri. ”Setahu saya gaji pokok seorang CEO itu sudah standar, tidak mungkin dibedakan antara pria dan wanita. Cuma kalau wanita mungkin masih memikirkan keluarganya karena posisinya juga sebagai kepala rumah tangga,”paparnya.
Presiden Direktur Merril Lynch Indonesia Lily Widjaja pun tidak sependapat bahwa CEO pria lebih ambisius ketimbang CEO wanita. Sebab, menurut dia, ambisi bukanlah ukuran yang paling penting dalam kepemimpinan CEO, melainkan kemampuan untuk memimpin dan berstrategi membangun perusahaan jauh lebih penting. ”Bekerja keras serta memiliki kemampuan kepemimpinan yang baik jauh lebih penting ketimbang sekadar berambisi untuk menguasai,” tandasnya. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment