Daun Beringin Terus Gugur
Saturday, 28 June 2008
Sejumlah kekalahan Golkar dalam pilkada mencuatkan berbagai spekulasi politik.Isu perpecahan di tubuh partai hingga musyawarah nasional luar biasa pun menyeruak.
Kekalahan Partai Golkar di sejumlah pemilihan kepala daerah–baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota–menuai spekulasi politik.Tak pelak,berbagai isu miring pun menghantam partai berlambang pohon beringin ini. Dari isu tidak jalannya mesin politik, lunturnya militansi kader, hingga krisis internal karena munculnya faksifaksi di tubuh Golkar.Bahkan,sejumlah aktivis Golkar mendesak digelar musyawarah nasional luar biasa (Munaslub).
Benarkah ranting-ranting beringin mulai patah? Sejatinya, jika menyelisik sepak terjang partai yang berusia 44 tahun ini, berbagai problematika tampaknya bisa ditanggulangi. Bagaimana tidak, ketika rezim Orde Baru (Orba) tumbang, Golkar dihujat habishabisan, sebab dianggap sebagai mesin politik Orba.Namun, ketangguhan Golkar dalam kancah politik bisa dibuktikan.
Meski menghadapi berbagai macam hujatan,pada Pemilihan Umum (Pemilu) 1999 Golkar tetap berada di urutan kedua setelah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Golkar meraih 23.741.758 suara atau 22,44% dari seluruh suara sah dan berhak atas 118 kursi di parlemen, selisih 33 kursi dengan PDIP. Bahkan, pada Pemilu Legislatif 2004 Golkar kembali menunjukkan kedigdayaannya dengan menempati urutan pertama dengan meraih 24.480.757 suara atau 21,58% dari keseluruhan suara sah, berhak atas 128 kursi parlemen, unggul 19 kursi dari PDIP yang menempati urutan kedua.
Sekilas, Golkar mendapat peningkatan 738.999 suara,tapi dari sisi persentase turun 0,86%. Namun, jelang Pemilu 2009, angin besar kembali menerpa ”kaum beringin”. Hal ini terlihat dari kekalahan pada sejumlah pemilihan kepala daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Kekalahan cukup telak dialami Golkar pada Pilkada Jawa Barat dan Sumatera Utara pertengahan April lalu.Sebab,dua daerah tersebut notabene merupakan kantong suara Golkar.
Meski kekalahan tersebut bukanlah ”lonceng kematian” Golkar, hal itu menunjukkan bahwa ada sesuatu yang kurang beres dalam ”kebun beringin”. Berdasarkan data yang dilansir situs resmi Pilkada Online milik Golkar, dari 388 pilkada yang sudah digelar sejak 2005 hingga Juni 2008, total kemenangan yang diraih Golkar sebanyak 162 pilkada (41,75%).
Rinciannya, dari 25 pilkada provinsi yang sudah digelar,Golkar hanya meraih 7 kemenangan (28%)–2 kemenangan mandiri dan 5 hasil koalisi.Sementara dari 363 pilkada kabupaten/kota yang sudah digelar, Golkar meraih 155 kemenangan (42,70%), 86 kemenangan mandiri,sisanya hasil koalisi. Padahal, dari total 498 pilkada tingkat provinsi dan kabupaten/kota selama periode 2005–2008, Golkar menargetkan 60% kemenangan atau 229 pilkada.
Dengan perolehan yang sudah dicapai,untuk mencapai target 60%, Golkar harus meraih 137 kemenangan lagi, sementara pilkada yang tersisa hanya 110. Tak pelak, pencapaian inilah yang dianggap sebagian fungsionaris sebagai kondisi mengkhawatirkan jelang Pemilu 2009.
Kekhawatiran itu pun mencuatkan isu bahwa dalam tubuh partai yang kini dipimpin Jusuf Kalla itu sudah muncul perpecahan di tingkat elite. Disebut-sebut, saat ini dalam tubuh Golkar muncul sejumlah faksi, di antaranya faksi yang mendukung Kalla sebagai Ketua Umum DPP sekaligus Wakil Presiden RI.Lalu,ada juga faksi pendukung Agung Laksono sebagai Wakil Ketua Umum DPP Golkar yang juga Ketua DPR, kemudian faksi pendukung Surya Paloh yang menjabat Ketua Dewan Penasihat DPP Golkar.
Malah ada juga yang menyebutkan adanya faksi pendukung Akbar Tandjung, mantan ketua umum sebelum Kalla. Konon faksi terakhir ini disebut sebagai ”barisan sakit hati”. Sebab, ditengarai pendukung Akbar terkena program ”sapu bersih”dari kepengurusan Golkar. Dugaan perpecahan di internal partai semakin menguat ketika Golkar berulang kali mengalami kekalahan dalam beberapa pilkada.
Namun, Ketua Harian Badan Pengendalian dan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Golkar Firman Subagyo membantah adanya perpecahan di tubuh Golkar, apalagi disebut ada berbagai macam faksi.Menurut dia, kepengurusan di tingkat DPP cukup solid dalam menentukan sebuah keputusan. Sementara untuk menggodok calon yang dimajukan dalam pilkada,Golkar punya tim khusus.
”Di DPP tidak ada faksi-faksi. Jika ada yang mengatakan demikian, itu hanyalah suara-suara sumbang,” tegasnya kepada SINDO. Apa pun argumentasi Firman, isu perpecahan di tubuh Golkar terlanjur menguat dan sudah menjadi rahasia umum.Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Gandung Pardiman justru membenarkan adanya sejumlah faksi di tubuh partai.
”Ya, orang DPP itu kalau dibilang ada faksi, telinga mereka merah, tetapi faktanya faksi-faksi itu memang ada,”katanya kepada SINDO. Terlepas dari benar atau tidaknya rumor perpecahan di tubuh partai,kekecewaan sejumlah anggota atas kekalahan di sejumlah pilkada kadung terlontar.Anggota Komisi III DPR RI Akil Mokhtar (Fraksi Partai Golkar) menilai mayoritas DPD kecewa terhadap kinerja DPP. Akibatnya, wacana munaslub menguat.
”Banyak sekali aspirasi yang berkembang di daerah tentang munaslub. Di tingkat DPD, hampir semua menginginkan hal ini dan hanya satu-dua saja yang tidak,”ungkapnya. Jika rumor tentang perpecahan di tubuh Partai Golkar ini benar, untuk Pemilu 2009 mendatang,suara Golkar diprediksi akan terpecah.
Pengamat Politik Indo Barometer M Qodari menilai simbol rindangnya pohon beringin tidak lagi bisa dipertahankan. Sebab, sudah terjadi degradasi militansi kader di daerah-daerah.Menurut dia,akar beringin dianggap sudah rapuh.”Bahkan,bisa jadi daun pohon beringin sudah mulai rontok dan berguguran,”katanya. Rentetan kekalahan yang dialami Golkar dalam sejumlah pilkada bisa menjadi pelajaran berharga untuk melihat perubahan arus bawah. (abdul malik/islahuddin)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/daun-beringin-terus-gugur.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment