Golkar,Maju Mundur Kena
Saturday, 28 June 2008
Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar bak buah simalakama lantaran dia juga menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia.
Di satu sisi Golkar harus mendukung kebijakan pemerintah, tetapi di sisi lain juga mesti melakukan koreksi. Itulah konsekuensi menempati posisi sentral di dua lembaga, pemerintahan dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).Bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda, dualisme peran pemimpin ternyata sangat memengaruhi hasil kinerja partai.
Secara etis, Golkar harus mendukung segala kebijakan pemerintah.Namun,secara politis, Golkar sebagai partai juga memiliki ambisi memenangi setiap ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) maupun Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 mendatang. Ternyata memang sulit untuk bisa memilih kedua-duanya. Sebab jabatan sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar dan wakil presiden yang disandang Kalla cukup membuat kader partai berlambang pohon beringin itu kalang kabut.
Contoh kentara ketika pemerintah harus menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) 24 Mei 2008 silam.Tak pelak keputusan itu membuat Golkar harus berhitunghitung secara matematis tentang peluangnya pada Pemilu 2009. Tidak mendukung keputusan pemerintah itu sama saja Golkar tidak solid karena pemimpinnya merupakan orang nomor dua di negeri ini.
Sementara jika memberi dukungan harus menerima risiko potensi perolehan suara mereka bakal merosot. ”Risiko kami mendukung pemerintah adalah pasti kami akan mendapatkan imbasnya,” kata Ketua Fraksi Partai Golkar Priyo Budi Santoso. Memang, secara tegas Kalla menyatakan kenaikan harga BBM tidak ada hubungannya dengan kemenangan atau kekalahan pemilu. Namun, secara logika, korelasi keduanya ada.
Bahkan, sebelum keputusan tentang kenaikan harga BBM diumumkan,di lingkup internal Golkar sudah muncul pertentangan. Ketua DPD Golkar Jawa Tengah (Jateng) Bambang Sadono secara terbuka menyatakan penolakan terhadap rencana pemerintah itu,awal Mei lalu. Maklum, Bambang sadar betul bahwa dirinya sedang berupaya membangun citra menjelang pencalonannya sebagai gubernur dalam Pilkada Jateng.
Pada Pilkada Jateng yang digelar 22 Juni lalu, Bambang pun harus mengakui keunggulan pasangan Bibit Waluyo dan Rustriningsih yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Selain Bambang, masih banyak lagi sederet nama fungsionaris Golkar yang sejatinya tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah terkait kenaikan harga BBM. Sebut saja Yuddy Chrisnandi yang juga menjabat sebagai anggota Komisi I DPR.
Yuddy telah berperan sebagai martir karena menjadi satu-satunya kader Golkar yang mendukung hak angket DPR atas kenaikan harga BBM. Keputusan Yuddy menyetujui hak angket yang telah didukung delapan fraksi membuat sokongan suara anggota Dewan menjadi 234 suara. Ketua DPR Agung Laksono yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar langsung memberikan pembelaan bahwa Yuddy tidak akan mendapatkan sanksi atas tindakannya yang lebih mirip seperti pembangkangan terhadap partai itu.
Dualisme kepentingan antara etis dan politis membuat para kader sadar betul akan risikonya. Sebab sulit membentuk citra bahwa propemerintah adalah juga prorakyat. Sebab tidak semua kebijakan pemerintah dianggap prorakyat. Untuk itu, Golkar sedang menyiapkan langkah yang berbeda dengan posisinya saat ini sehingga tidak membabi buta membela pemerintah, tetapi juga tidak meninggalkan rakyat untuk mengembalikan citra yang kadung tidak populer lagi di mata masyarakat.
”Kami akan berupaya mengembalikan citra Golkar yang berpihak kepada masyarakat,” ujar Priyo. Upaya Golkar menjaga jarak dengan pemerintah mem a n g p a t u t dihargai. Sebab hal itu akan membantu memberi citra baik kepada Golkar. Sayangnya masyarakat tidak bisa dibodohi. Peneliti Cetro Erika Widyaningsih menyatakan masyarakat kini mulai cerdas dan memiliki kesadaran politik yang cukup tinggi sehingga pencitraan tertentu tidak akan mampu mengelabuhi rakyat.
Apalagi untuk partai incumbent semacam Golkar. ”Rakyat kita sudah cerdas mengerti kebijakan pemerintah seperti apa sehingga G o l k a r harus lebih cermat dalam membaca situasi,”katanya. (abdul malik/islahuddin)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/golkar-maju-mundur-kena.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment