Padi Transgenik Anti Hama Penggerek
Sabtu, 17/11/2007
JAKARTA(SINDO) – Meskipun sempat menuai kontroversi,padi transgenik hasil penelitian LIPI sukses uji lapangan dan siap aplikasi. Padi jenis ini lebih tahan terhadap hama penggerek.
Padi hasil rekayasa bioteknologi transgenik bakteri bacillus thuringiensis dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kini sudah siap diaplikasikan. Padi transgenik ini lebih tahan hama penggerek batang dan blas. Padi jenis ini tidak hanya untuk jenis padi varietas rojolele,namun juga bisa disilangkan dengan varietas lain.Berbeda dengan padi hibrida, padi transgenik ini pembibitannya bisa dilakukan oleh petani sendiri. Kepala Divisi Biologi Molekuler LIPI Inez HS Loedin, yang juga kepala program kelompok penelitian padi ini menyatakan bahwa uji coba yang dilakukan sudah mencapai tahap analisa dampak lingkungan (amdal).
Sedangkan uji lapangan terbatas yang dilakukan di delapan lokasi pertanian menggunakan padi varietas rojolele sudah terbukti efektif. “Kami memilih rojolele karena merupakan varietas asli Indonesia. Namun,bisa disilangkan dengan varietas lain.Hasil percobaan di lapangan terbukti efektif terhadap hama penggerek dan berdasarkan amdal tidak berbahaya bagi serangga. Sekarang tahapannya sudah sampai tahap keamanan pangan,” ujarnya kepada SINDO.
Meski belum selesai uji keamanan pangan, lanjut Inez, sebenarnya dengan menggunakan jenis gen protein sama yang direkayasa dalam jagung sudah dianggap aman oleh dunia internasional, seperti di Eropa dan Amerika Serikat. Sayangnya untuk melakukan uji keamanan pangan padi transgenik belum ada pedoman hukum yang disahkan.
“Meskipun standar internasional sudah memenuhi,namun kami tidak bisa melakukan uji jika regulasi atau dasar hukumnya belum ada. Biar bagaimana kita nggak bisa lepas karena nggak ada pedomannya, mudah-mudahan pedomannya segera keluar,”jelas Inez. Inez mengisahkan, bersama 20 orang tim peneliti dari kelompok Peneliti Padi mulai meneliti padi hasil rekayasa pada 1996. Tahun 1998, akhirnya fase turunan pertama pengeluaran kultur jaringan padi transgenik ini berhasil dilakukan dan sudah stabil. Hama penggerek batang dan blas dipilih sebagai obyek penelitian karena dianggap sebagai salah satu momok petani wilayah Pantai Utara (Pantura),daerah sentra produksi padi.
Rekayasa genetik ini bertujuan agar padi yang ditanam tahan terhadap serangan kedua hama tersebut, meskipun tanpa pestisida. “Dengan cara konvensional belum bisa diatasi.Gen ketahanannya tidak ditemukan di padi dan kerabatnya. Sehingga terpaksa kita ambil gennya dari bakteri yang nggak berbahaya dari tanah. Gen ini disesuaikan dengan padi dan diintroduksi. Gen itu mengeluarkan kristal protein, bila ketemu kuncinya akan bersifat toksin,” katanya.
Namun, Inez menjamin bakteri tanah jenis bacillus thuringiensis ini hanya bersifat toksin apabila bertemu dengan ulat hama penggerek batang padi. Menurut dia, bakteri berubah menjadi racun ketika suasana basa, sementara untuk perut manusia yang sifatnya asam maka akan cepat hancur dan tidak bersifat toksin. Inez menjelaskan bakteri Bacillus thuringiensis, ini dipakai telah sebagai pestisida alami yang sudah teruji selama 40-50 tahun.Kemudian tim peneliti mencari variannya yang paling tepat guna mencari gen yang jika patah masih ada cadangannya untuk diambil kristal proteinnya. Menurut dia, protein dari bakteri itu akan terbentuk hanya kalau ada gigitan serangga.
“Jadi kalau orang makan sih tidak toksin. Artinya tidak berbahaya bagi manusia,namun bagi serangga itu menjadi racun,”tegasnya. Uji lapangan pun dilakukan tim peneliti sejak 2003 hingga sekarang. Uji lapangan terbatas dilakukan pada delapan lahan di dua wilayah, yakni Indramayu dan Kerawang, Jawa Barat.Aplikasinya, padi transgenik bisa ditanam di wilayah Pantura. LIPI saat ini bekerja sama dengan Departemen Pertanian (Deptan), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) untuk menyelesaikan seluruh proses penelitian.
Baik itu dalam hal nantinya aplikasi dari hasil penelitian ini, maupun untuk kelengkapan pedoman hukumnya. “Masalah penggerek paling besar di Pantura. Daerah Karawang penggerek batang kuning,kalau di Indramayu penggerek putih. Dengan gen itu kita sudah tidak perlu menggunakan pestisida lagi karena, tapi paling nggak untuk daerah yang serius penggerek penyemprotan akan sangat berkurang,” paparnya.
Menurut dia, jika nantinya dilepas di pasaran bibit rojolele tahan hama ini tidak akan lebih mahal ketimbang bibit biasa lainnya. Sebab penelitian ini memang bertujuan untuk membantu petani agar terhindar dari puso ketika panen. Meski demikian, tentu kewenangan untuk melepas padi hasil rekayasa sepenuhnya bukan kewenangan LIPI. Bisa jadi produksi masal bibit padi tahan hama penggerek akan dilakukan oleh Deptan baru kemudian didistribusikan kepada petani.
“Toh akhirnya nanti memang akan dilepas ke petani.LIPI nggak dalam kapasitas untuk produsen benih. Meskipun sempat juga malah ditawar oleh Timur Tengah teknologi ini,”tandasnya. Selain Indonesia, beberapa negara yang telah mengembangkan teknologi serupa adalah China yang saat ini sudah siap melepasnya ke petani. Sedangkan di AS, menurut Inez, padi transgenik lebih untuk membuatnya tahan pada herbisida pembasmi gulma rumput.
Jadi ketika dilakukan penyemprotan hama gulma dengan menggunakan obat, rumput mati dan padinya tetap hidup. Ke depan, penyilangan untuk berbagai jenis varietas lainnya juga akan dikembangkan termasuk IR64 yang masih menempati urutan pertama jenis beras paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. (abdul malik)
Sabtu, 17/11/2007
JAKARTA(SINDO) – Meskipun sempat menuai kontroversi,padi transgenik hasil penelitian LIPI sukses uji lapangan dan siap aplikasi. Padi jenis ini lebih tahan terhadap hama penggerek.
Padi hasil rekayasa bioteknologi transgenik bakteri bacillus thuringiensis dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kini sudah siap diaplikasikan. Padi transgenik ini lebih tahan hama penggerek batang dan blas. Padi jenis ini tidak hanya untuk jenis padi varietas rojolele,namun juga bisa disilangkan dengan varietas lain.Berbeda dengan padi hibrida, padi transgenik ini pembibitannya bisa dilakukan oleh petani sendiri. Kepala Divisi Biologi Molekuler LIPI Inez HS Loedin, yang juga kepala program kelompok penelitian padi ini menyatakan bahwa uji coba yang dilakukan sudah mencapai tahap analisa dampak lingkungan (amdal).
Sedangkan uji lapangan terbatas yang dilakukan di delapan lokasi pertanian menggunakan padi varietas rojolele sudah terbukti efektif. “Kami memilih rojolele karena merupakan varietas asli Indonesia. Namun,bisa disilangkan dengan varietas lain.Hasil percobaan di lapangan terbukti efektif terhadap hama penggerek dan berdasarkan amdal tidak berbahaya bagi serangga. Sekarang tahapannya sudah sampai tahap keamanan pangan,” ujarnya kepada SINDO.
Meski belum selesai uji keamanan pangan, lanjut Inez, sebenarnya dengan menggunakan jenis gen protein sama yang direkayasa dalam jagung sudah dianggap aman oleh dunia internasional, seperti di Eropa dan Amerika Serikat. Sayangnya untuk melakukan uji keamanan pangan padi transgenik belum ada pedoman hukum yang disahkan.
“Meskipun standar internasional sudah memenuhi,namun kami tidak bisa melakukan uji jika regulasi atau dasar hukumnya belum ada. Biar bagaimana kita nggak bisa lepas karena nggak ada pedomannya, mudah-mudahan pedomannya segera keluar,”jelas Inez. Inez mengisahkan, bersama 20 orang tim peneliti dari kelompok Peneliti Padi mulai meneliti padi hasil rekayasa pada 1996. Tahun 1998, akhirnya fase turunan pertama pengeluaran kultur jaringan padi transgenik ini berhasil dilakukan dan sudah stabil. Hama penggerek batang dan blas dipilih sebagai obyek penelitian karena dianggap sebagai salah satu momok petani wilayah Pantai Utara (Pantura),daerah sentra produksi padi.
Rekayasa genetik ini bertujuan agar padi yang ditanam tahan terhadap serangan kedua hama tersebut, meskipun tanpa pestisida. “Dengan cara konvensional belum bisa diatasi.Gen ketahanannya tidak ditemukan di padi dan kerabatnya. Sehingga terpaksa kita ambil gennya dari bakteri yang nggak berbahaya dari tanah. Gen ini disesuaikan dengan padi dan diintroduksi. Gen itu mengeluarkan kristal protein, bila ketemu kuncinya akan bersifat toksin,” katanya.
Namun, Inez menjamin bakteri tanah jenis bacillus thuringiensis ini hanya bersifat toksin apabila bertemu dengan ulat hama penggerek batang padi. Menurut dia, bakteri berubah menjadi racun ketika suasana basa, sementara untuk perut manusia yang sifatnya asam maka akan cepat hancur dan tidak bersifat toksin. Inez menjelaskan bakteri Bacillus thuringiensis, ini dipakai telah sebagai pestisida alami yang sudah teruji selama 40-50 tahun.Kemudian tim peneliti mencari variannya yang paling tepat guna mencari gen yang jika patah masih ada cadangannya untuk diambil kristal proteinnya. Menurut dia, protein dari bakteri itu akan terbentuk hanya kalau ada gigitan serangga.
“Jadi kalau orang makan sih tidak toksin. Artinya tidak berbahaya bagi manusia,namun bagi serangga itu menjadi racun,”tegasnya. Uji lapangan pun dilakukan tim peneliti sejak 2003 hingga sekarang. Uji lapangan terbatas dilakukan pada delapan lahan di dua wilayah, yakni Indramayu dan Kerawang, Jawa Barat.Aplikasinya, padi transgenik bisa ditanam di wilayah Pantura. LIPI saat ini bekerja sama dengan Departemen Pertanian (Deptan), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) untuk menyelesaikan seluruh proses penelitian.
Baik itu dalam hal nantinya aplikasi dari hasil penelitian ini, maupun untuk kelengkapan pedoman hukumnya. “Masalah penggerek paling besar di Pantura. Daerah Karawang penggerek batang kuning,kalau di Indramayu penggerek putih. Dengan gen itu kita sudah tidak perlu menggunakan pestisida lagi karena, tapi paling nggak untuk daerah yang serius penggerek penyemprotan akan sangat berkurang,” paparnya.
Menurut dia, jika nantinya dilepas di pasaran bibit rojolele tahan hama ini tidak akan lebih mahal ketimbang bibit biasa lainnya. Sebab penelitian ini memang bertujuan untuk membantu petani agar terhindar dari puso ketika panen. Meski demikian, tentu kewenangan untuk melepas padi hasil rekayasa sepenuhnya bukan kewenangan LIPI. Bisa jadi produksi masal bibit padi tahan hama penggerek akan dilakukan oleh Deptan baru kemudian didistribusikan kepada petani.
“Toh akhirnya nanti memang akan dilepas ke petani.LIPI nggak dalam kapasitas untuk produsen benih. Meskipun sempat juga malah ditawar oleh Timur Tengah teknologi ini,”tandasnya. Selain Indonesia, beberapa negara yang telah mengembangkan teknologi serupa adalah China yang saat ini sudah siap melepasnya ke petani. Sedangkan di AS, menurut Inez, padi transgenik lebih untuk membuatnya tahan pada herbisida pembasmi gulma rumput.
Jadi ketika dilakukan penyemprotan hama gulma dengan menggunakan obat, rumput mati dan padinya tetap hidup. Ke depan, penyilangan untuk berbagai jenis varietas lainnya juga akan dikembangkan termasuk IR64 yang masih menempati urutan pertama jenis beras paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. (abdul malik)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment