Kamis, 01 November 2007

Biskuit Bekicot Lebih Kaya Protein

Biskuit Bekicot Lebih Kaya Protein
Rabu, 31/10/2007

BISKUIT yang terbuat dengan campuran bahan tepung dari bekicot, ternyata lebih bergizi dan kaya akan protein. Karena itu, biskuit ini cocok untuk makanan balita sebagai pendamping air susu ibu (ASI).

Demikian hasil penelitian Murtina Sri Prihatin dan Wahyudi, mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes), yang menjadi juara III Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Ternyata, bekicot yang selama ini hanya dianggap sebagai hama tanaman memiliki kandungan protein tinggi,yaitu 60,9 gram per 100 gram.

Tentu angka tersebut cukup potensial sebagai bahan makanan campuran pendamping ASI yang bisa meningkatkan pertumbuhan balita. Menurut Murtina, dia melakukan uji eksperimen biskuit yang diuji mutu proteinnya dengan metode protein efficiency ratio (PER) dalam laboratorium biologi dan kimia Unnes dengan menggunakan tikus percobaan.

Tikus yang dibagi menjadi empat kelompok, yakni satu kelompok kontrol dan tiga kelompok eksperimen.Penetapan konsumsi protein, digunakan dengan metode kjeldahl, sedangkan pertumbuhan tikus diperoleh dari penimbangan berat badan secara rutin.

’’Data yang kami peroleh berupa besar konsumsi protein dan pertambahan berat badan secara primer. Kemudian, data tersebut dianalisis mutunya dengan PER dan analisis statistik,”paparnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu protein (nilai PER) terendah ada pada biskuit kontrol yang tanpa campuran tepung bekicot, yaitu 2,37 (mutu setengah sempurna). Untuk mutu protein tertinggi ada pada biskuit eksperimen kedua (campuran tepung bekicot 15 gram), yaitu 2,54 (mutu sempurna).

Dengan demikian, ujar Murtina, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan signifikan antara mutu biskuit pendamping ASI dengan/ atau tanpa tepung bekicot. Peningkatan mutu protein akibat percampuran tepung bekicot mencapai 0,36%. Meningkatnya mutu protein biskuit ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pencegahan kurang gizi pada bayi.

Selain itu,berdasarkan data Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat (Binkesmas) Departemen Kesehatan (Depkes), pada 2005 terdapat tiga juta balita menderita kurang gizi.Apabila hal itu dibiarkan, kemungkinan Indonesia akan mengalami lost generation. Penyebab langsung masalah ini karena penyakit infeksi dan rendahnya asupan makanan.

’’Pemanfaatan bahan makanan lokal diharapkan mampu meningkatkan protein dan membantu mengatasi masalah kurang gizi ini,” ujarnya.(abdul malik)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/biskuit-bekicot-lebih-kaya-protein-5.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment