Selasa, 19 Mei 2009

Strategi Bisnis Tetap Tumbuh di Masa Krisis - Dimulai dari Pemimpin

Sunday, 17 May 2009
Ketika ingin mewujudkan kecerdasan perusahaan, langkah pertama harus dimulai dari atas. Seorang pemimpin harus mampu berkomunikasi dan bisa menjadi anutan anak buahnya.

Para chief executive officer (CEO) tidak hanya dituntut fleksibel dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, tetapi juga harus tanggap terhadap perkembangan yang ada. Sebab, performa kinerja perusahaan sangat berkorelasi dengan kemampuan kepemimpinan seorang CEO. Pakar manajemen Rhenald Kasali mengatakan, strategi perusahaan untuk bertahan dan tetap tumbuh di masa krisis dimulai dari kemampuan CEO menjalankan organisasinya.

Sebab, antara kinerja perusahaan dengan kemampuan memimpin CEO mengelola perusahaan adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. “Itu merupakan satu paket yang tidak dapat dipisahkan,” ujarnya kepada harian Seputar Indonesia (SI). Menurut Rhenald,langkah pertama adalah memilih pemimpin yang sesuai dengan kultur perusahaan yang dinamis. Bisa jadi pemimpin tersebut merupakan hasil kaderisasi dari dalam perusahaan.

Tentu saja, untuk mencetak pemimpin andal yang mampu berstrategi menyelamatkan perusahaan dari terpaan krisis tidaklah gampang.Apalagi untuk tumbuh dan bersaing dengan kompetitor di era persaingan global seperti ini. “General Electric selalu mendapatkan pemimpin yang bagus dari dalam karena mereka memiliki tradisi kaderisasi yang bagus. Ini sangat berbeda dengan BUMNBUMN di Indonesia.Meskipun beberapa BUMN seperti Telkom dan Indosat sudah memiliki tradisi kaderisasi yang bagus. Sementara BUMN lain kebingungan mencari figur pemimpin,”ujarnya.

Hal penting selanjutnya adalah masalah budaya perusahaan. Menurut Rhenald, budaya kinerja perusahaan harus dibangun agar mampu beradaptasi dalam segala situasi.Baik itu dalam keadaan perekonomian sedang bagus atau resesi.Namun,fakta yang ada selama ini di dalam negeri justru pertumbuhan kinerja perusahaan masih kalah dibandingkan isu good corporrate governance.Aturan dan standar operasional prosedur yang demikian rigid tidak jarang justru malah kontraproduktif.

Apalagi jika CEO yang memimpin perusahaan bukan dari dalam, melainkan merekrut orang luar, terkadang resistensinya sangat besar. Konflik semacam ini sangat mungkin menjadi kontraproduktif. Sekalipun “orang luar” itu sudah melalui seleksi yang sangat ketat, tetap saja tidak bisa melakukan pekerjaannya secara baik. “Sudah susah-susah mencari orang, tapi malah tidak dipercaya.

Aturan sangat ketat, SOP sangat detail, kalau memilih ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memang harus begitu.Namun kalau untuk perusahaan, sebaiknya dipilih figur yang memiliki fleksibilitas untuk memimpin, baik dalam keadaan krisis atau saat ekonomi sedang bagus,”paparnya. Harus ada keseimbangan antara inovasi dan efisiensi.Dalam masa resesi,banyak perusahaan yang beramai-ramai menahan untuk tidak melakukan inovasi.

Menurut dia,efisiensi seharusnya tidak mengorbankan jalannya inovasi. Efisiensi dilakukan untuk memangkas bidang-bidang yang sudah tidak produktif.Namun,yang namanya inovasi harus tetap berjalan. “Sehingga ada keseimbangan.Ibarat sebuah pohon,ada triming,yakni beberapa dahan harus dipangkas agar bisa menghasilkan buah dan cabang dahan yang bagus dan tinggi. Jika tidak dilakukan demikian, perusahaan ibarat pohon besar, tapi semrawut karena tidak ada keseimbangan antara inovasi dan efisiensi,”tuturnya.

Manajemen keuangan konservatif adalah kunci selanjutnya.Pengelolaan keuangan yang rigid merupakan langkah untuk mengamankan cash flow perusahaan.Sebab harus ada cadangan anggaran yang selalu tersedia setiap saat dibutuhkan sehingga tidak selalu mengandalkan hutang untuk mengelola perusahaan. ”Jangan hanya berpikir utang yang malah dihabiskan untuk fix asset.Utang itu memang perlu untuk menjalankan roda bisnis,tetapi cash sendiri harus dijaga secara konservatif dan disiplin. Sayangnya, banyak perusahaan yang justru bangga dengan utang,”paparnya.

Paradigma teknologi dalam perusahaan juga kuncinya berada di tangan pemimpin.Seorang CEO yang tanggap terhadap perkembangan teknologi akan mengelola perusahaan yang ditopang teknologi secara efektif.Teknologi yang digunakan bukan sekadar atas alasan gengsi, tetapi berdasarkan manfaat.Tujuannya tentu saja untuk meningkatkan produktivitas kinerja perusahaan. Tiga Karakter Pemimpin Paling tidak ada tiga jenis karakter pemimpin,yakni pemimpin yang adaptif dan fokus pada kinerja perusahaan.

Pemimpin seperti ini akan tetap mampu mengelola perusahaan secara optimal, baik dalam kondisi krisis atau saat perekonomian tumbuh.Kemudian pemimpin yang selalu terpengaruh keadaan ekonomi makro. Biasanya, pemimpin jenis ini lebih suka menunggu dan menahan diri untuk melakukan strategi bisnisnya hingga benar-benar yakin kondisi ekonomi sudah membaik. Pemimpin dengan karakter ini biasanya lebih suka mendengarkan apa kata para analis ekonomi makro ketimbang bekerja keras untuk mencapai target kinerja perusahaan.

Terakhir adalah jenis pemimpin yang kebijakannya tidak pernah sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan permasalahan yang ada. ”Ada juga tipe pemimpin di mana apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan sangat tidak sesuai atau berbeda sama sekali,”paparnya. Menurut Rhenald, ada tiga langkah untuk membuat perusahaan menjadi kebal terhadap krisis.

Di antaranya pemimpin harus mampu membaca dan mempelajari keadaan,baik dari sisi perspektif lokal, regional maupun dari kacamata internasional. Ibarat seorang pilot,digunakanlah radar untuk memantau keadaan sekeliling, bahkan dalam jarak yang cukup jauh. Kemudian, seorang pemimpin harus tetap fokus pada tujuan sehingga dia akan fokus pada pencapaian target. Terakhir,upayakan langkah proteksi untuk mengantisipasi krisis. ”Jadi lakukan segala macam cara untuk menyiapkan proteksi berlapis guna berjaga-jaga apabila krisis menerpa.

Jangan terlalu mengandalkan alat-alat atau sarana untuk menjalankan perusahaan, melainkan strategi apa yang akan dilakukan,”ujarnya. Kunci untuk tetap bisa tumbuh di saat krisis, kata Rhenald, harus diketahui dulu saat ini kinerja perusahaan sedang masuk dalam tahap mana? Jika sedang dalam masa pertumbuhan, yang harus dilakukan adalah inovasi produk.Apabila kinerja perusahaan sedang tahap mapan atau datar, karena banyak kompetitor di bidang yang sama,harus dilakukan inovasi strategi marketing atau pelayanan prima kepada konsumen.

Pengelolaan operasional perusahaan secara optimal dan efisien juga menjadi kunci selanjutnya.Terakhir,apabila kinerja perusahaan sedang dalam keadaan menurun, akibat bisnisnya sudah lama dibangun, akuisisi adalah pilihan terbaik. ”Tidak kalah penting adalah bagaimana mental pemimpin, pegawai, dan SDM perusahaan yang tidak kecut atau takut terhadap krisis sehingga tidak mengandalkan diri pada alat,melainkan pada orang.

Sementara pemimpin perusahaan mulai memikirkan strategi pemasaran yang lebih jitu. Jika selama ini melakukan penjualan masih melalui distributor, misalnya ekspor harus ke Singapura, kini sudah waktunya langsung menyasar ke end user,”tandasnya. Bagaimanapun mengelola bisnis di tengah krisis bukan pekerjaan mudah. Menurut Profesor Bidang Administrasi Bisnis Harvard Business School Lynda M Applegate, saat ini kalangan bisnis benar-benar bertarung melawan krisis.Selain itu,perubahan kondisi perekonomian global juga menjadi tantangan selanjutnya.

Ketika mendekati masa perubahan pascakrisis, yang dibutuhkan adalah seorang pemimpin yang memiliki perencanaan yang kuat untuk bisa bertahan dan meraih kesuksesan di masa mendatang. “Pemimpin-pemimpin yang bisa mengomunikasikan dengan baik strategi bisnisnya kepada karyawan, konsumen,dan relasi untuk bekerja bersama dalam pembuatan keputusan dan langkah kebijakan adalah kuncinya.

Kesuksesan akan tergantung pada pemimpin yang mampu menstabilkan kondisi perusahaan, menemukan peluang dan pasar baru,menciptakan inovasi penawaran baru, dan lainnya,” ungkap Lynda sebagaimana dikutip situs Harvard Business School (27 April 2009). (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/239072/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment