Jumat, 10 April 2009

PT di Belanda Dalam Ranking


Beberapa Perguruan Tinggi (PT) di Belanda menempati ranking 100 besar sebagai terbaik di dunia versi The Times Higher Education Supplement-Quacquarelli Symonds (THE-QS)World University Rankings 2008. Namun belum mampu mengungguli PT favorit dari Amerika Serikat(AS) dan negara Eropa lainnya.

PT yang mendapat ranking no 1 dan 2 terbaik di dunia versi THE QS masih ditempati dari AS. Harvard University dengan skor 100 pada 2008 menempati ranking 1 atau juara bertahan karena tahun sebelumnya juga menempati posisi yang sama. Demikian pula Yale University baik 2007 maupun 2008 tetap bertahan di posisi ranking 2 dengan skor 99,8.

Sementara PT dari Inggris yakni University of Cambridge yang pada tahun 2007 berada di ranking 2, pada 2008 harus rela merosot satu peringkat ke ranking 3 dengan skor 99,5. Demikian juga dengan PT favorit lainnya dari Negeri Wales itu, yakni University of Oxford yang tahun 2007 berada di ranking 2, namun pada 2008 harus cukup puas di ranking 4 dengan skor 98,9. Posisi terakhir lima besar terbaik ditempati California Institute of Technology (Caltech) dengan skor 98,6, yang lagi-lagi merupakan PT dari negeri Paman Sam. Ranking Caltech pada 2008 naik 2 peringkat ke posisi 5 dibandingkan tahun 2007 yang masih di posisi 7.

Bagaimanapun untuk posisi 15 besar PT terbaik versi THE QS masih didominasi oleh PT-PT dari AS dan Inggris. Yakni sebanyak 11 PT dari AS dan 4 lainnya dari Inggris. Baru pada posisi ke-16 muncul nama Australian National University (ANU) dari Negeri Kangguru dengan skor 92,0. ANU tetap bertahan di posisi yang sama dibandingkan tahun sebelumnya. Kemudian PT terbaik dari Asia hanya cukup puas berada di ranking 19 yakni University of Tokyo dari Jepang dengan skor 90,0. PT unggulan Negeri Sakura ini merosot 2 peringkat dibandingkan tahun 2007 yang meraih ranking 17.

Selain Inggris ada beberapa PT dari negara-negara Eropa yang menempati ranking 50 besar PT terbaik versi THE QS 2008. Diantaranya, ada ETH Zurich (Swiss Federal Institute of Technology) dari Switzerland yang menempati ranking 24 pada 2008 dengan skor 89,1, melesat naik 18 peringkat dibandingkan tahun 2007 yang masih berada di posisi 42. Kemudian dari Prancis ada École Normale Supérieure, PARIS yang meraih ranking 28 dengan skor 84,8 merosot 2 peringkat dibanding 2007 di posisi 26.

Sementara PT dari Denmark yakni University of Copenhagen meraih ranking 48 pada 2008 dengan skor 78,5. Posisi University of Copenhagen juga melesat tajam 45 peringkat dibandingkan tahun 2007 yang masih di ranking 93. Serupa Trinity College Dublin, PT favorit di Irlandia juga naik 4 peringkat menjadi ranking 48 dengan skor 78,2 pada 2008 dibandingkan 2007 yang berada di rangking 53.

Negara industri baru dari Asia, China dengan PT unggulan Peking University harus berlapang dada di ranking 50 dengan skor 78,1 pada 2008. Posisi ini merosot tajam 14 peringkat dibanding 2007 yang meraih ranking 36. Seoul National University dari Korea Selatan juga berada di ranking 50 dengan skor 78,1. PT unggulan dari Negeri Gingseng itu harus puas dengan kenaikan tipis 1 peringkat dibandingkan 2007 yang berada di ranking 51.


Di atas 50 besar


Baru pada ranking 53 muncul nama PT dari Belanda yakni University of Amsterdam dengan skor 78,0. Posisi PT unggulan dari Negeri Kincir Angin itu merosot 5 peringkat dibandingkan 2007 yang berada di ranking 48. Leiden University pada 2008 naik 20 peringkat berada di ranking 64 dengan skor 74,8, dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di posisi 84. Utrecht University juga melesat cukup tajam menjadi berada di ranking 67 dengan skor 74,0 pada 2008, naik 32 peringkat dibanding 2007 yang hanya mendapat ranking 89.

Sementara DELFT University of Technology justru mengalami kemerosotan cukup tajam dengan hanya puas berada di ranking 78 dengan skor 71,8 pada 2008, dibandingkan pada 2007 yang berada di rangking 63. Empat PT tersebut yakni University of Amsterdam, Leiden University, Utrecht University, dan Delft University of Technology merupakan lembaga pendidikan unggulan Belanda yang berhasil masuk 100 besar PT terbaik di dunia versi THE QS.

Kemudian di posisi 111 muncul nama Maastricht University dengan skor 74,8 yang bertahan di ranking yang sama dibandingkan tahun sebelumnya. Erasmus University Rotterdam berhasil naik peringkat ke ranking 126 dengan skor 65,2 dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya beroleh posisi 163. Eindhoven University of Technology juga berhasil naik peringkat ke ranking 128 dengan skor 64,8 dibandingkan tahun 2007 yang berada di ranking 130. Serupa Wageningen University berhasil naik peringkat ke ranking 142 pada 2008 dibandingkan ranking 148 pada 2007.

Ranking University of Groningen naik tajam pada 2008 menjadi 144, dibandingkan 173 pada 2007. Paling fantastis VU University Amsterdam berhasil melesat ke ranking 155 pada 2008, padahal 2007 masih di peringkat 304. Sebaliknya University of Twente justru merosot dari ranking 185 pada 2007 menjadi ranking 200 pada 2008. Serupa Radbound Universiteit Nijmegen melorot dari ranking 195 pada 2007 menjadi ranking 221 pada 2008. Terakhir Tilburg University yang harus cukup puas berada di ranking 501 ke atas. Berdasarkan penilaian THE QS, hanya 12 perguruan tinggi di Belanda yang berhasil masuk 500 besar PT terbaik di dunia.


Bukan Harga Mati


Bagaimanapun THE QS bukan satu-satunya ukuran untuk melihat bagaimana dunia melihat kualitas sebuah perguruan tinggi dan juga bukan harga mati. Meskipun THE QS sudah menilai kualitas PT berdasarkan beberapa kriteria, yakni kualitas penelitian (research quality), kualitas pengajaran (teaching quality),kualitas lulusan (graduate employability), dan aspek internasional (international outlook).

Selain THE QS, ada beberapa penilaian yang dikeluarkan oleh lembaga lainnya. Diantaranya Webometrics Ranking of World Universities (WRWU), Academic Ranking of World Universities (ARWU) dari Universitas Shanghai Jia Tong, dan Performance Ranking of Scientific Papers for World Universities (SPWU) dari Universitas Nasional Taiwan. Bahkan Leiden University ternyata tidak mau ketinggalan. Melalui lembaga Pusat Studi Sains dan Teknologi (The Centre for Science and Technology Studies/CWTS) juga mengeluarkan perankingan PT terbaik di dunia.

WRWU atau juga biasa disebut Webometric menilai berdasarkan situs web dan kunjungannya dari sebanyak 16.000 PT di dunia. Berdasar penilaian Webometric, Belanda berhasil menempati urutan ke-6 dalam lima besar PT terbaik di dunia per Januari 2009 dan urutan ke-7 dalam 10 besar. Sementara posisi pertama ditempati AS baik untuk lima besar maupun 10 besar. Kemudian Kanada (2), Inggris (3), Australia berada di urutan 4 untuk lima besar, dan 5 untuk 10 besar. Kemudian Jerman di urutan ke-5 untuk lima besar dan ke-4 untuk 10 besar. Posisi di bawah Belanda ditempati Swedia di urutan ke-7 untuk lima besar dan ke-9 untuk 10 besar.

Kemudian ARWU menilai berdasar empat kriteria. Yakni kualitas pendidikan yang dilihat dari alumni PT bersangkutan yang berhasil memenangkan Nobel. Kemudian kualitas fakultas dilihat dari staf dari PT bersangkutan yang berhasil meraih Nobel. Serta tingginya angka kutipan hasil penelitian dari 21 kategori subyek.

Output penelitian dinilai berdasarkan karya ilmiah yang berhasil dimuat di Jurnal Nature dan Science, indeks karya ilmiah dalam Indeks Kutipan Sains (Science Citation Index) dan Indeks Kutipan IPS (Social Science Citation Index). Kriteria terakhir adalah prestasi per kapita, yakni bagaimana prestasi akademik sebuah lembaga PT dihitung dengan analisa per kapita.

Berdasar penilaian ARWU pada 2008 Belanda masuk urutan ke-10 dalam 10 besar negara dengan PT terbaik di dunia. Yakni hanya 2% dari 100 besar, 2,4% dari 500 besar, 1,4% dari produk domestik bruto (gross domestik product/GDP), dan 0,2% dari populasi. Menggunakan penilaian ARWU ini pun Belanda harus mengaku kalah dengan AS (1), Inggris (2), Jerman (3), Jepang (4), Kanada (5), Swedia (6), Prancis (7), Australia (8), dan Swiss (9). Sementara dalam penilaian ARWU berdasarkan negara, hanya 2 PT di Belanda yang berhasil masuk 100 besar. Kemudian untuk 200 besar hanya 9 PT, 300 besar (9), 400 besar (11), dan 500 besar (12).

Sementara metode SPWU lebih menitikberatkan pada jumlah dan mutu tulisan ilmiah yang dipublikasikan. Universitas Nasional Taiwan sebagai penyelenggara menggunakan sembilan indikator yang dikelompokkan dalam tiga kriteria, yaitu produktivitas riset, dampak riset, dan keunggulan riset. Sedangkan CWTS Leiden University menilai berdasarkan indikator bibliometric PT yang dinilai.

Sebagaimana dilansir dalam situs www.cwts.nl, publikasi dalam situs web merupakan kriteria pertama dari perangkingan. Penilaian CWTS fokus pada semua universitas di dunia dengan lebih dari 700 situs web yang mempublikasi indeks publikasi ilmiah per tahunnya. Dengan langkah ini berarti setidaknya 1000 PT terbesar di dunia dalam hal jumlah publikasinya tercakup dalam penilaian ini. Analisis bibliometric didasarkan pada hasil kajian ilmiah dari ratusan peneliti aktif dari PT-PT yang dinilai.


Melupakan Indikator Pengabdian



Meski begitu, penilaian ranking PT-PT di dunia oleh beberapa lembaga memunculkan reaksi banyak kalangan. Tidak sedikit yang menganggap penilaian THE-QS misalnya, melupakan indikator pengabdian kepada masyarakat. Padahal indikator pengabdian atau faktor aksiologi dari ilmu pengetahuan tidak bisa dianggap sebelah mata. Sebab sebuah ilmu atau penelitian tidak akan berguna jika sebatas penelitian semata tanpa realisasi. Begitu juga sebuah lembaga pendidikan harus memiliki kebermanfaatan bagi masyarakat sekitar. Jika tidak, lembaga tersebut hanya akan berada di menara gading meskipun hasil penelitian dan kajian keilmuannya sangat canggih.

”Peringkat universitas itu memang penting. Namun lebih penting lagi pengabdian dari lembaga pendidikan itu kepada masyarakat,” kata pengamat pendidikan Arif Rachman sebagaimana dikutip Harian Seputar Indonesia (SI/19/10/08).

Menurutnya, sebuah ilmu pengetahuan akan selalu dinilai dari tiga hal, yakni dari sisi ontologi mengenai seperti apa ilmu itu, kemudian dari sisi epistemologi yang menilai bagaimana sebuah ilmu itu dikembangkan. Terakhir dari sisi aksiologi, yakni mengapa ilmu itu dikembangkan. Indikator terakhir inilah yang akan membahas kemanfaatan sebuah ilmu. Apakah ilmu tersebut memberikan manfaat untuk memperbaiki derajat kehidupan masyarakat sekitar dan umat manusia ataukah tidak. Sebab sebuah ilmu juga bisa dikembangkan untuk kepentingan negatif seperti menciptakan senjata pemusnah massal.

”Saya yakin penilaian THE-QS dalam pemeringkatan ini cukup obyektif karena mereka melibatkan dewan ahli dan auditor eksternal. Namun, bisa jadi, ada indikator-indikator penilaian umum yang berbeda dengan penilaian khusus yang kadang belum sesuai dengan konteks masyarakat Indonesia,” paparnya.

Akan tetapi, Rektor ITB Djoko Santoso menilai pemeringkatan sebagaimana yang dilansir THE-QS bisa menjadi motivator untuk menjadikan PT berusaha menjadi lebih baik. Sebab selain sebagai salah satu upaya pencitraan, pemeringkatan juga bisa memacu lembaga yang diperingkatkan untuk tahu di mana sebenarnya posisinya di mata dunia. Djoko berharap posisi ITB di tahun mendatang akan semakin meningkat.Tahun ini peringkat ITB naik dibandingkan 2007 di posisi 114 untuk kategori teknologi dan 315 secara total.

”Sayangnya masih ada yang belum dinilai THE-QS, yakni sumbangsih lembaga pendidikan terhadap lingkungan masyarakat di sekitarnya,” ungkapnya kepada SI.

Mungkinkah indikator pengabdian kepada masyarakat bisa diterapkan dalam penilaian perankingan PT-PT di dunia seperti dalam THE-QS? Menanggapi hal ini, Contributing Editor THE Magazine London, Inggris, Martin Ince menyatakan permasalahan dari pemeringkatan yang dilakukannya adalah dalam hal mendapatkan konsistensi kriteria.

Artinya,sesuatu yang berlaku dan dilakukan lembaga pendidikan di Indonesia ternyata tidak dilakukan oleh PT di Inggris. Meskipun jika beberapa negara memiliki program yang sama sementara beberapa negara yang lain tidak memberlakukannya, hal itu tidak akan bisa digunakan untuk menilai apakah sebuah universitas berkualitas sehingga indikator penilaian yang dipakai memang merupakan yang digunakan oleh seluruh universitas di dunia.

”Bagaimanapun saya yakin bahwa elemen ini (pengabdian masyarakat) sangat bermanfaat sebagai salah satu program akademik. Semoga Indonesia akan bersama-sama dengan negara lain melakukan sesuatu program yang sama
sehingga bisa dijadikan indikator penilaian,” tandas Martin sebagaimana dikutip dalam SI. (Abdul Malik)

*Tulisan ini untuk mengikuti kompetisi blog studi di Belanda dalam kategori wartawan

Sumber :
http://www.timeshighereducation.co.uk/hybrid.asp?typeCode=243&pubCode=1
http://www.topuniversities.com/worlduniversityrankings/results/
http://www.webometrics.info/
http://www.arwu.org/rank2008/EN2008.htm
http://www.cwts.nl/ranking/LeidenRankingWebsite.html
Harian Seputar Indonesia Rubrik Periskop edisi 19/10/08 atau http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama/menuju-perguruan-tinggi-kelas-dunia.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment