Friday, 09 January 2009
Beberapa hari sebelum berangkat ke Belanda Munir memeluk istrinya, Suciwati dan kedua anaknya, Soultan Alif Allende dan Diva Suu Kyi Larasati.
“Saya sudah menemukan surga saya,” itulah kata-kata yang diucapkan Munir. Ucapan tersebut tak hanya membuat Suci terharu,tetapi sangat menyayat hati.Rupanya,itu menjadi kalimat terindah terakhir yang Suci dengar dari Munir.Setelah itu,dia mendapat kabar suami tercinta meninggal di atas pesawat Garuda Indonesia, sebelum tiba di Belanda.
Belakangan dia mendapat informasi bahwa kematian Munir akibat racun arsenik. Munir dibunuh! Sontak,hati Suci hancur. Perempuan kelahiran Malang,Jawa Timur,itu bukan hanya kehilangan cinta sejati,tetapi juga sahabat.Di mata Suci,Munir bukan sekadar ayah dari anak-anaknya,tetapi juga teman diskusi.
“Buat saya, ucapannya itu adalah hal yang luar biasa.Tidak bisa diungkapkan dengan katakata. Tapi kemudian dia dibunuh dengan kejamnya, diambil,dirampas begitu saja,”ujarnya kepada SINDO dengan mata yang berkaca-kaca. Suci pun membuktikan nya. Empat tahun dia berjuang di jalan berliku mencari keadilan.
Di tengah perjuangan, sebagai seorang ibu,mengurus anak tetap menjadi prioritas perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai Program Officer for Human Rights Support Facilities (PO HRSF) Tifa Foundation itu. Hingga kini tidak sedikit pun tebersit dalam hatinya untuk mencari pengganti Munir.
Bagi Suci,Munir bukan hanya sebuah kesejatian, tetapi juga surga.Syahdan, surga itu kini lindap. Pernah sekali waktu, untuk meneguhkan kesejatian itu,Suci sengaja memasang nada sambung pribadi Cinta Terakhirmilik Ari Lasso pada telepon genggamnya.
Kini… usai sudah s’gala penantian panjangku Setelah temukan dirimu duhai kekasihku Hanya… di hatimu akan ku labuhkan hidupku Kar’na kaulah cinta terakhirku… Nada sambung itu hanyalah sebuah ekspresi kerinduan Suci mengenang beragam kebahagiaan yang pernah dirasakan bersama Munir.
“Yang pasti,buat saya dia (Munir) belum tergantikan.Saya yakin ada sebuah misteri yang harus saya jalani.Buat saya,dia laki-laki istimewa yang di dunia ini jumlahnya sedikit, mungkin berapa puluh tahun lagi baru ada orang yang seperti dia,”paparnya. Tidak ada yang istimewa pada Suci saat Hari Ibu,22 Desember 2008,lalu.Pagi dia mengerjakan rutinitas seperti biasa.
Menyiapkan segala keperluan sekolah kedua anaknya, mengantarkan mereka,lalu pergi bekerja.Tak lupa dia mengingatkan keponakannya untuk menjemput Alif dan Diva seusai sekolah.Kebiasaan Suci mengantarkan kedua anaknya ke sekolah merupakan bagian dari kewaspadaan.Dia tidak ingin anak-anak mendapat teror.
“Seperti biasa ketika mereka pulang sekolah sekitar pukul tiga sore,saya selalu menelepon rumah untuk mengetahui keadaan anak-anak,”ujarnya. Siang itu Suci terkejut. Ketika menelepon rumah, Alif dan Diva berseru punya kado istimewa untuknya. Tentu saja Suci penasaran.
Apa gerangan yang akan diberikan kedua buah hatinya itu? “Nanti dehbaca ya Bu kalau kami sudah tidur. Saya taruh di atas meja kejutannya,”kata Suci mengulang perkataan Alif, siswa kelas 5 SD itu. Karena penasaran,Suci terus menanyakan kejutan apa yang sedang disiapkan Alif dan Diva.Tentu saja mereka menolak memberi tahu.“Nggak mau,bukan kejutan namanya kalau dikasih tahu,”jawab Alif lagi.
Suci pun menyepakati perjanjian.Malam harinya, ketika kedua anaknya sudah tidur,Suci mengambil kado yang sudah berada di atas meja.Diliputi rasa penasaran bercampur haru atas tingkah anak-anaknya, Suci menemukan secarik surat yang ditulis Alif dan Diva. Dalam surat tulisan tangan itu Alif dan Diva mengungkapkan rasa terima kasih mereka atas perjuangan ibunya dalam membesarkan mereka.
Tak lupa mereka pun mengucapkan kata sayang. “So sweet buat saya,itu hadiah yang sangat luar biasa dari anak-anak,” kenang Suci. Perjuangan Suci menginspirasi banyak orang, tak terkecuali penyanyi Melanie Subono.Dia begitu mengidolakan Suci.Lewat lagu Hey Wanita,Melanie mendedikasikan musiknya untuk perjuangan Suci.(*)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/203335/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment