Friday, 09 January 2009
Munir boleh mati, tapi lentera perjuangannya tetap menyala. Di tangan Suciwati lentera itu tetap hidup,meski jalan yang diteranginya amat gelap dan terjal. Wajahnya tegang.
Ada kemarahan yang menyeruak dari raut perempuan kelahiran Malang,Jawa Timur,40 tahun silam itu. Kegeraman itulah yang tersirat dari wajah Suciwati, istri almarhum aktivis HAM Munir seusai mendengar hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan membacakan vonis bebas untuk terdakwa kasus pembunuhan Munir,mantan Deputi V/Penggalangan Badan Intelijen Negara (BIN) Muchdi Purwoprandjono,Rabu siang (31/12).
Padahal,Suci— begitu dia biasa disapa— menaruh harapan besar pada putusan hakim di ujung tahun 2008 itu.Inilah kado pahit akhir tahun bagi Suci selama empat tahun perjuangannya mencari keadilan. Dia sangat berharap Muchdi divonis seberatberatnya. Dengan begitu dia bisa melewati “pintu masuk” untuk mendobrak sistem intelijen yang selama ini sulit ditembus.
Suci meyakini sebuah konspirasi pola intelijen telah dilakukan untuk membunuh suaminya.Munir tewas pada 7 September 2004 di pesawat Garuda Indonesia yang tengah melintas di atas Hungaria,tiga jam sebelum tiba di Amsterdam,Belanda. Munir diduga diracun dengan arsenik.Munir terbang ke Negeri Kincir Angin itu untuk melanjutkan studi di sana.
“Ini merupakan putusan yang menyakitkan.Inilah putusan yang kita takutkan selama ini,”kata Suci dengan nada marah. Meski diselimuti kekecewaan,peraih penghargaan Gwangju Prize for Human Rights (Hong Kong) 2006 ini tetap mengangkat tangan kirinya dengan jemari terkepal ketika meninggalkan ruang sidang.
Sebuah simbol perlawanan bahwa perjuangan belum berakhir. Kakinya seakan tak pernah letih melangkah mencari keadilan.Untuk kesekian kalinya hati ibu dari Soultan Alif Allende dan Diva Suu Kyi Larasati itu hancur. Ketika tahu Munir tewas dibunuh,Suci meradang. Kini dia kembali menerima pil pahit atas putusan bebas Muchdi.Tetapi hal itu bukanlah akhir dari perjuangannya.
Kematian Munir hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar tentang siapa pelaku utamanya. Palu sudah diketuk. Tetapi ibu dua anak itu tidak patah arang.Bersama kawankawannya di Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dan Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (KASUM) berencana mengajukan kasasi.
Koordinator Kontras Usman Hamid pun prihatin dengan putusan hakim. “Suci dituduh berimajinasi bahwa terjadi penculikan, tapi hakim lupa bahwa Suci pernah diteror saat dia hamil lima bulan,ketika mengandung anak pertamanya, Alif (1998).Saat itu Suci dievakuasi kawan-kawan di Kontras,”ujar Usman.
Cul-de-sac
Motivasi kuat,kegigihan, dan ketulusan yang membuat Suci bertahan selama empat tahun mencari dan terus mencari keadilan yang berada di lorong gelap tanpa tahu di mana akhirnya. Cul-de-sac,semangat dan harapanlah yang terus dipelihara Suci. Salah satu upaya yang selama ini dilakukan Suci mencari keadilan bersama para korban pelanggaran HAM adalah dengan menggelar Aksi Kamisan, aksi damai tiap Kamis di depan Istana Merdeka.
Aksi ini sendiri terinspirasi oleh ibu-ibu korban penculikan di Argentina yang digelar di Plaza de Mayo. Putusan bebas Muchdi dari jeratan hukum hanyalah sekelumit dari daftar panjang perjuangan Suci. Demi menemukan keadilan, Suci sudah melakukan berbagai cara,mendorong pemerintah untuk mengungkap dalang pembunuhan Munir.
Baginya,pembunuhan suaminya berarti pula ancaman bagi para aktivis HAM.Bahkan Suci juga pernah menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).Pada 7 September 2006 silam,tepat dua tahun kematian Munir,Suci menulis surat untuk orang nomor satu di Indonesia itu.
Bapak Presiden, Sebagai seorang manusia biasa saya punya keterbatasan, saya pasti lelah.Namun seperti suami saya, seperti Munir, saya tidak akan pernah menyerah.Saya akan terus menuntut siapa pun yang terlibat dalam permufakatan jahat tersebut.Saya akan terus menagih janji,menuntut apa yang menjadi hak saya dan anak-anak saya.
Saya menggugat kekuasaanmu, meminta agar segala kebesaran yang ada dalam tanganmu bisa Anda gunakan untuk menyeret semua pihak yang terlibat dalam kasus pembunuhan suami saya. Jika Bapak tidak mau menggunakan kekuasaan itu,kemuliaan para pemimpin tidaklah datang di hari kemudian, tidak juga akan datang pada saat dia tak lagi memiliki kekuasaan,kemuliaan hanya datang dari kursi yang kini tengah Bapak duduki dan apa yang Anda lakukan dari atas kursi itu.
Kursi itu adalah kursi yang disepuh dengan cinta dan kepercayaan jutaan rakyat Indonesia, tapi sepuhan itu tak akan berkilau jika tidak Bapak rawat dengan keadilan dan kebijaksanaan. Untuk itulah, melalui surat ini, cinta dari rakyat kecil seperti saya,meminta Anda untuk menegakkan keadilan dari atas kursi itu.Semoga setelah membaca surat ini Bapak bisa menjadi jawaban seluruh kerinduan tersebut.
Lelah
Sebagai manusia biasa, Suci punya keterbatasan.Dia bisa lelah,tapi tak akan menyerah.Memang,setelah muncul indikasi keterlibatan BIN dalam kasus pembunuhan Munir,Suci menemui jalan terjal. Bahkan,di awal aksinya mencari keadilan Suci sering mendapat teror,mulai dari ancaman lewat telepon, pesan pendek,hingga “pengiriman”bangkai ayam ke rumahnya.
Tetapi cara itu tak pernah menyurutkan langkah perempuan yang hobi pergi ke laut itu.”Bagiku itu adalah pekerjaan orang yang rendah dan pengecut,untuk apa takut?”tegas lulusan Diploma Dua Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Negeri Malang ini. Di tengah keletihan Suci sedikit lega ketika 20 Januari 2008 pengadilan mengganjar salah satu terdakwa,Pollycarpus Budihari Prijanto,dengan 20 tahun penjara.
Namun, putusan itu belum mampu menguak kebenaran di balik konspirasi pembunuhan suaminya.Ide tentang reformasi BIN disebut-sebut sebagai penyebab terbunuhnya Munir.Artinya saat ini Suci sedang melawan konspirasi yang dianggap melibatkan lembaga intelijen itu.Untuk itu butuh energi dan semangat ekstra.
Suci tidak sendirian.Banyak dukungan dari kawankawannya di kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan masyarakat umum.Simpati masyarakat atas perjuangan Suci terus mengalir.Sejumlah penghargaan pun dia raih. Baru saja Suci meraih penghargaan People of The Year (POTY) versi SINDO 2008 untuk bidang hukum.
Dua tahun lalu Suci dan almarhum suaminya juga menerima penghargaan hak asasi manusia dari Human Rights First di Manhattan, NewYork,Amerika Serikat. Penghargaan ini dianugerahkan kepada almarhum Munir karena dianggap sebagai pejuang HAM terdepan yang dikenal tak mengenal rasa takut pada rezim Orde Baru.
Suci juga dinilai telah bekerja tanpa lelah membawa pembunuh Munir ke pengadilan,meski harus menghadapi ancaman dan pelecehan karena advokasinya. “Sejak awal saya tahu hanya kegelapan yang akan saya temui.Tapi apakah saya akan diam saja? Tidak.
Sekecil apa pun saya harus melakukan sesuatu.Ini harus terus-menerus kita suarakan, ”kata Suci sesaat setelah menerima trofi POTY dari SINDO akhir Desember lalu. Laksana api membara,semangat Suci takkan padam meski nyawa sebagai taruhannya. Menurut dia,penegakan kebenaran atas kasus pembunuhan Munir adalah simbol atas harapan penegakan HAM di negeri ini.(*)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/203336/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment