Rabu, 14 Januari 2009

Profil Suciwati - Suciwati, Pemancang Tiang Hukum

Friday, 09 January 2009
“Jangan sampai ada orang lain yang mengalami nasib serupa yang menimpa suamiku,” begitu katanya lugas.Dialah Suciwati.Setiap kali kita menyaksikan kabar berita tentang kematian Munir dan usaha mengusutnya,sosok ini selalu terlihat.


Sosok ini seolah menjadi penanda lain dari seorang Munir. Suaminya dihilangkan karena mempunyai konsep pemikiran yang berbeda. Ikhtiar tanpa lelah yang dilakukan Suciwati selama empat tahun ini mengingatkan kita bahwa sosok Munir telah menjadi lentera penerang kesuraman kehidupan berdemokrasi Indonesia.

Lentera itu telah dipadamkan secara paksa oleh mereka,para pecundang demokrasi yang telah memaksakan kehendak demi melakukan sebuah kejahatan berencana: meracun Munir. Mungkin perempuan ini tak pernah bercita-cita untuk menjadi suluh.Menerangi gelap nan kelam.

Namun, jalan itu terbuka untuk seorang Suciwati, istri dari aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib (1965–2004).Sejak mengetahui dengan pasti bahwa suaminya dibunuh dalam maskapai penerbangan Garuda, dia bergerak! Mendobrak kekakuan sistem kerja negara yang sering tidak peka pada sebuah kejahatan konspirasi para benalu di dalamnya.

Dia seolah tak menerima sebuah adagium usang “kerahasiaan negara”.Perlahan dan pasti tirai konspirasi itu terkoyak.Pertama,seorang kopilot Garuda bernama Pollycarpus. Kedua,mantan Presiden Direktur Garuda Indra Setiawan.Ketiga, mantan Deputi V Badan Intelijen Negara Muchdi Purwoprandjono.

Keempat,ini yang masih diperjuangkan. Suciwati memutuskan diri berjuang di antara aras kekuasaan dan kemanusiaan. Memperjuangkan apa yang telah direbut dari dirinya dan dari diri rakyat Indonesia: kebenaran di balik kematian Munir.Sebuah tindakan kriminal dan tidak beradab ini harus dibuktikan melalui prosedur hukum yang berlaku di Indonesia.

Hukum adalah panglima tertinggi dari spirit rasionalitas manusia yang bisa menegakkan kebenaran dan keadilan yang sebaik-baiknya. Namun,apakah hukum telah ditegakkan dalam kasus pembunuhan Munir? Mungkinkah keadilan di Indonesia telah teracuni dan mati ketika palu majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis bebas terdakwa pembunuh Munir, Muchdi Purwoprandjono, “Karena tidak terbukti bersalah melakukan pembunuhan berencana terhadap Munir.

”? Kiranya sulit bagi kita untuk menjawab pertanyaanpertanyaan tersebut ketika sebuah amar putusan telah terbeli dan ditekan sedemikian rupa oleh mereka yang menggunakan tubuh negara.Putusan itu pun disambut sinis oleh rakyat Indonesia karena telah menempatkan kembali Indonesia sebagai surga impunitas bagi para penjahat HAM.

Putusan bebas bagi Muchdi tidak membuat Suciwati patah arang.Suciwati yang penulis kenal dengan baik adalah sosok perempuan luar biasa dan telah lama berdiri di barisan terdepan untuk mencari keadilan dan kebenaran,tidak saja keadilan yang dibutuhkan bagi Suciwati dan kedua anaknya: Soultan Alief Allende dan Diva Suu Kyi Larasati, namun keadilan bagi masyarakat Indonesia yang lebih luas lagi.

Perjuangannya mengingatkan penulis kepada sosok Dewi Srikandi dalam kisah-kisah pewayangan klasik budaya Jawa. Dewi Srikandi dalam mitologi pewayangan Jawa adalah karakter yang tidak saja dikenal dengan kecantikannya, namun karakter ini juga memiliki ketangguhan dan keuletan dalam mengatur strategi perang.

Srikandi bahkan bertindak sebagai senopati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, satria Wirata yang gugur menghadapi Resi Bisma,seorang senopati dari balatentara Kurawa dalam Perang Bharatayudha.Perang ini tidak saja menciptakan revolusi dalam tiap-tiap karakter yang hadir secara mikro, namun juga bisa dimaknai sebagai bentuk perubahan sosial kehidupan bermasyarakat dan bernegara dalam skop yang lebih luas.

Perang Bharatayudha menempatkan karakter Srikandi sebagai perempuan pembela kebenaran, suri teladan prajurit perempuan yang didaulat untuk keselamatan dan keamanan dari Negeri Madukara.Negeri yang dibesarkan Arjuna,satu dari lima ksatria Pandawa terbaik yang akhirnya mempersunting Srikandi.

Kisah Bharatayudha juga mengilustrasikan kemandirian dan keperkasaan Srikandi dengan panah Hrusangkali yang digunakan untuk menamatkan riwayat Resi Bisma demi membayar kematian Resi Seta,senopati Pandawa yang telah terbunuh pada peperangan sebelumnya.

Menilik lakon yang dikisahkan Srikandi dalam Bharatayudha membuat penulis percaya bahwa kisah ini tidak saja menceritakan peperangan akbar yang mengakibatkan pecahnya perang saudara antara Pandawa dan Kurawa,namun lebih jauh kisah ini berhasil menempatkan perubahan-perubahan karakter manusia yang tengah bergulat untuk menemukan nilai luhur dengan merawat kebaikan dan mengimplentasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah Bharatayudha tak pelaknya menjadi sebuah realita yang tengah dihadapi pembela HAM dalam perjuangan penegakan HAM, apalagi jika kita mengontekstualisasikannya pada penuntasan kasus Munir.

Perang Bharatayudha bisa terjadi jika hadir pemicu di tengah masyarakat sebuah kondisi sosial di mana muncul kelompok masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang berbudi luhur dan memilih jalan perang suci,sebagai jawaban untuk memerangi kelompok masyarakat yang telah banyak melakukan kezaliman dan tindakan angkara murka di muka bumi.

Perang suci itu menjadi sebuah pilihan instrumen kehidupan untuk menuju tatanan masyarakat yang lebih baik.Meski sejatinya berperang adalah pilihan terakhir untuk membawa misi kemaslahatan bersama, yaitu perdamaian abadi.

Kemenangan perang suci yang dimiliki ksatria Pandawa Lima hanya akan bisa dijawab jika melihat sifat keangkaramurkaan dinasti Kurawa dimusnahkan, demi mewujudkan Negeri Hastinapura sebagai negeri yang adil dan makmur bagi rakyatnya. Suciwati adalah wanita berjiwa satria.

Simbol wayang acap lebih diberatkan pada nilainilai mistis yang didalami pada kelompok sosial yang hidup dengan kebiasaan- kebiasaan alegoris, akan tetapi kesungguhan reinterpretasi akan membawa kita pada bentuk historisitas konstruktif dengan mengupas semangat di balik sebuah epos klasik,Mahabbharata.

Dunia Srikandi yang penulis metaforkan untuk melihat cerminan nilai intelektualitas dalam kebudayaan Jawa dan dimasukkan dalam jelujur realita kehidupan Suciwati,adalah sebuah pembacaan demistifikasi karakter teladan di mana unsur ksatria sesungguhnya bisa dimiliki setiap manusia yang masih memiliki hati nurani bagi sesama.

Suciwati mungkin tidak gemar mengangkat busur panah,menunggang kuda dan berperang layaknya seorang ksatria kerajaan. Namun,kita akan melihat padanan feminitas dan maskulinitas yang melebur,menciptakan kesatuan kekuatan dalam diri Suciwati,dan memunculkan karakter perempuan berjiwa ksatria layaknya Dewi Srikandi.

Jiwa-jiwa perjuangan yang hadir dalam diri Srikandi maupun Suciwati amat didukung loyalitas Punakawan, mereka rakyat kebanyakan yang sungguh memahami bahwa esensi keadilan dan kebenaran masih teramat jauh dari realita kehidupan.

Jiwa Srikandi yang tecermin dalam pilihan hidup Suciwati memancarkan kesetiaan feminin dan kekerashatian maskulin, menjadi inspirasi bagi banyak orang dengan menciptakan impresivitas tersendiri dalam mendukung nilai moralitas yang acap masih dipisahkan dengan elegi kekuasaan dalam imajinasi bangsa Indonesia.

Suciwati adalah sebuah catatan hebat dalam sejarah setelah masa Tjut Nyak Dien dan Raden Ajeng Kartini yang berjuang tidak saja bagi kaum perempuan Indonesia,namun memperjuangkan sebuah kebebasan bangsa melawan ketertindasan imperialisme.

Kini sebuah sejarah kembali terulang untuk melawan lupa, melawan sebuah epos tragedi yang ingin dikekalkan, menolak tunduk pada kekalahan dengan melawan nasib yang telah menciptakan kesunyian tersendiri.Sejarah Munir yang dilanjutkan Suciwati bukan untuk melawan imperialisme masa lalu,namun untuk melawan sebuah penjajahan gaya baru yang diciptakan bangsa sendiri,bangsa yang menikmati kesakitannya.

Tekad Suciwati untuk mengungkap dalang pembunuh Munir tampaknya serupa dengan tekad Srikandi membalas kematian Resi Seta.Sebuah kesetiaan beraraskan cinta dan kemanusiaan harus didukung dengan segenap hati dan kemauan dari berbagai pihak, ketika rasa keadilan menjadi langka di negeri ini.

Pengkhianatan atas hitam putih keadilan yang telah tercerabut dari hati nurani manusia terdalam tidak membuat Suciwati menjadi lemah.Dia membuktikan rasa cinta yang terdalam kepada Munir untuk mencari kebenaran. Mendukung perjuangan Suci adalah menggagas peradaban berkemanusiaan di masa depan.

Cinta yang tidak mengenal keraguan,menciptakan kebijaksanaan yang meluap pengertian tanpa muncul rasa pamrih,dan kekuatan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran adalah ujian kesetiaan dari perjalanan kehidupan seorang Suciwati dalam rentang proses ini.Seperti yang sempat dia katakan pada suatu masa,“Karena saya telah menemukan cinta sejati saya,yaitu Munir.

Mungkin saya tidak tahu tentang rencana Tuhan.Tapi untuk saat ini,Munir adalah cinta terakhir saya dan saya sudah menemukannya.” Remah-remah ingatan kembali dikumpulkan Suciwati untuk menyalakan kembali lentera keberanian yang nyaris padam.

Lentera yang telah digunakan Munir untuk memecah kegelapan penindasan hak asasi manusia dengan berbagi harapan akan keadilan yang baik di masa depan,tidak dia bawa hingga ke liang lahat,namun dia tinggalkan bagi kita semua untuk mengubah kultur ketakutan dengan menebarkan semangat Munir,semangat yang beraraskan perjuangkan kolektif dengan melibatkan komitmen dan solidaritas dari berbagai pihak.

Ketika zaman telah berubah dan diam harus dilawan dengan bunyi kemanusiaan sebagai langkah nyata,adalah sebuah kehormatan bagi penulis untuk mengisahkan kembali sosok Suciwati.Sosok perempuan yang memberi inspirasi bagi orang banyak untuk merawat gagasan keadilan dan kebenaran tidak saja pada terma hakikat kemanusiaan yang terdalam dari sebuah relasi cinta kasih manusia.

Namun,dia tengah mewujudkannya dalam tindakan konkret upaya hukum, meski sebuah ketukan palu di sudut selatan telah benarbenar menghina esensi keadilan dan membuntukan akal sehat serta nurani kemanusiaan.

Kita harus membangun politik harapan pada banyak Srikandi Indonesia yang tangguh seperti sosok Suciwati, untuk membangun peradaban kemanusiaan dengan memuliakan welas asih dan martabat manusia untuk kehidupan yang lebih baik bagi anak cucu kita.Dengan membangun asa berarti kita tengah memancarkan cahaya yang jauh lebih terang. Menenangkan jiwa-jiwa yang haus akan perubahan demi menggagas peradaban berkemanusiaan.(*)

Oleh: Usman Hamid,
Koordinator Kontras

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/203337/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment