Selasa, 21 Oktober 2008

Mengejar Prestise atau Mutu Pendidikan?

Saturday, 18 October 2008
Beberapa waktu lalu tersiar kabar gembira perbaikan peringkat tiga universitas di Indonesia, Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada The Times Higher Education Supplement(THES).


Ketiga universitas ini sejak 2006 selalu masuk dalam peringkat 500.Prestasi gemilang pernah diraih ketiga perguruan tinggi tersebut pada 2006.Saat itu UI menempati urutan 250,ITB (258),dan UGM (270).Ada empat kriteria penting yang menjadi penentu peringkat,yaitu kualitas penelitian, kualitas pengajaran, kualitas lulusan,dan aspek internasional.

Masuk Peringkat

Masuk dalam peringkat tentu suatu kebanggaan.Namun ada pertanyaan mendasar, apakah mengejar peringkat THES bertujuan mengejar prestise atau mutu pendidikan tinggi di Indonesia? Dalam beberapa tahun terakhir,sejumlah perguruan tinggi di Indonesia sedang mengerahkan segala upaya agar dapat masuk peringkat THES.

Bahkan, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi telah menargetkan sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) untuk bisa masuk. Bila prestise masuk peringkat yang hendak dikejar,para penyelenggara pendidikan tinggi tidak perlu bersusah payah melakukannya.

Mereka cukup mengonsolidasi informasi dan data yang tersebar serta mengisi secara tepat berbagai borang yang disediakan THES.Namun mengejar prestise dengan cara demikian merupakan upaya semu, tidak dalam rangka membenahi mutu pendidikan di perguruan tinggi bersangkutan.

Menilik Universitas Harvard yang tahun ini masih duduk pada peringkat 1,tentu bukan prestise peringkat THES yang dikejar. Harvard menduduki peringkat tertinggi karena dari segi penelitian, pengajaran, lulusan, dan aspek internasional memang tidak dapat diragukan kualitasnya.

Sudah pasti Harvard tidak sekadar mengarahkan penyelenggaraan pendidikan tinggi mereka agar sesuai dengan kriteria THES.Ataupun mengisi borang agar sesuai dengan apa yang diminta THES.

Banyak kendala yang dihadapi universitas di Indonesia, termasuk tiga universitas yang masuk dalam peringkat 500, yang memengaruhi mutu pendidikan.Ada empat kendala besar, yakni sumber daya manusia (SDM), tugas administrator, anggaran, dan kebijakan pemerintah yang terkait dengan pendidikan tinggi.

Kendala SDM

Kendala SDM terjadi umumnya dimulai sejak perekrutan pengajar, staf administrasi, dan mahasiswa. Perekrutan kerap dilakukan secara tidak profesional sehingga yang terpilih dalam beberapa hal bukan yang seharusnya.

Bahkan, mindset (cara berpikir) pengajar dan mahasiswa belum sesuai dengan sistem yang berlaku di perguruan tinggi, misalnya pengajar sering mereduksi tugas mereka hanya mengajar, dan sangat kurang dalam penelitian. Malah faktanya,banyak pengajar yang tersedot di sektor publik dan swasta.Parahnya lagi, ini terjadi pada pengajar yang berkualifikasi doktor dan guru besar.

Akibatnya,kedoktoran dan kegurubesaranmerekabelummaksimaltermanfaatkan. Mereka merasa lebih mempunyai prestise bila meraih kedudukan tinggi di pemerintahan daripada mendapat penghargaan di bidang penelitian.

Di samping itu,pada kebanyakan universitas, mereka yang tinggal di kampus sebagian besar bukanlah pengajaran dalan. Olehkarenaitu,sulitmengharapkan hasil penelitian yang prima, berbobot, dan dapat masuk dalam jurnal internasional serta dapat dipresentasikan pada forum-forum internasional.

Demikian pula dengan proses belajar mengajar di ruang kelas.Para pengajar masih banyak mengandalkan kesesuaian jawaban mahasiswa daripada proses pencarian pelbagai sumber oleh mahasiswa.Cara belajar kebanyakan mahasiswa pun masih sama seperti 30–40 tahun lalu.

Mereka mengandalkan pada catatan kuliah pengajar. Mahasiswa masih enggan untuk mencari tahu lebih dalam di perpustakaan.Harus diakui, perpustakaan di banyak universitas sangat memprihatinkan.Koleksi bukunya sangat minim hingga tempat yang tidak nyaman.

Padahal dari segi kemampuan, mahasiswa Indonesia bisa melebihi mahasiswa mancanegara. Buktinya, banyak mahasiswa Indonesia di luar negeri yang berhasil lebih baik. Ini karena kurang memadainya penempaan dan kualitas infrastruktur pendidikan.Akibatnya,performa para mahasiswa tidak optimal.

Tugas Administrator

Kendala lain bersumber dari tugas administrator yang tidak dapat mengidentifikasi apa yang diperlukan agar lembaganya sebanding (comparable) dengan universitas yang masuk dalam 100 peringkat dunia. Bukan berarti, universitas di Indonesia harus menjiplak apa yang ada di universitas lain.

Adalah hal yang mustahil untuk melakukannya sebab setiap universitas memiliki karakteristik dan sejarahnya masing-masing dalam konteks masyarakat dan negaranya. Kebijakan yang perlu dilakukan administrator universitas adalah menciptakan terjadinya suasana akademis dan birokrasi layaknya universitas yang masuk 100 besar.

Bila kondisi itu terjadi, bukan tidak mungkin universitas di Indonesia masuk dalam peringkat 100 besar dan mampu menarik mahasiswa asal luar negeri. Sebenarnya,di sejumlah perguruan tinggi telah ada mahasiswa asing yang menuntut ilmu.

Namun,hal itu bukan karena kualitas pendidikannya.Ada dua kategori mahasiswa mancanegara. Pertama, mahasiswa asing yang ingin mempelajari ilmu yang berkaitan dengan Indonesia.Kedua,mahasiswa asing yang karena di negara asalnya tidak tertampung. Ini yang terjadi pada sejumlah fakultas kedokteran yang menerima mahasiswa asal Malaysia.

Anggaran

Kendala berikut adalah anggaran. Bila diperhatikan, universitas yang berada dalam 100 besar peringkat dunia sepertinya tidak mempunyai masalah dengan anggaran. Harvard,Yale,dan Oxford tercukupi dengan tuition fee yang sangat tinggi ditambah donasi alumni,insentif pajak,dan subsidi pemerintah.

Sementara itu, Universitas Nasional Singapura (NUS) tercukupi dengan subsidi yang sangat besar dari pemerintah. Melihat kenyataan ini, sulit rasanya bagi universitas di Indonesia untuk meraih peringkat 100 besar.

Sebagaimana kita ketahui, alokasi anggaran pendidikan dari tahun ke tahun sangat minim. Memang, Mahkamah Konstitusi mengharuskan pemerintah untuk mengalokasikan anggaran sebesar 20% untuk pendidikan.

Hanya,realisasinya mungkin tidak semanis dari apa yang diintensikan. Bagi tiga universitas asal Indonesia yang masuk peringkat THES,anggaran terus menghantui penyelenggaraan pendidikan. Mendapatkan anggaran tuition fee yang sangat tinggi bukan merupakan opsi, mengingat tiga universitas ini harus berpihak bagi mereka yang tidak mampu.

Kebijakan Pemerintah

Permasalahan terakhir terkait dengan kebijakan pemerintah. Di Indonesia, perguruan tinggi tidak seotonom universitas di negara lain.Kebijakan dan intervensi pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional masih sangat mewarnai dunia pendidikan.

Terkait kendala ini,bagi perguruan tinggi negeri, mereka akan lebih terbebani karena sistem pengelolaan dan anggaran universitas harus mengikuti sistem pengelolaan dan anggaran pemerintah. Akibatnya, suasana birokrasi universitas hampir sama dengan lingkungan birokrasi pemerintahan.

Tidak heran bila pengajar tidak berlomba-lomba melakukan penelitian, tetapi justru berjuang untuk mendapat jabatan sebagai rektor, dekan, hingga ketua departemen. Politik kampus pun mirip dengan politik di negeri ini. Empat kendala di atas yang perlu mendapat pembenahan secara substantif di Indonesia.

Terlebih, pembenahan yang berhubungan dengan manusia.Terpenting bagi seluruh pemangku kepentingan adalah menjaga konsistensi untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi di Indonesia.(*)

Hikmahanto Juwana,
Guru Besar dan mantan Dekan
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/mengejar-prestise-atau-mutu-pendidikan-2.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment