Burung Kacamata Hitam Togian dalam Status GentingSabtu, 15/03/2008
Ironis, spesies baru burung kacamata di Kep Togian,Teluk Tomini, Sulawesi Tengah, berdasarkan kriteria International Union for the Conservation of Nature and Natural Resource (IUCN),ternyata terancam punah (endangered).
JAKARTA(SINDO) –Para peneliti dari Universitas Indonesia (UI), yakni Didi M Indrawan dan Sunarto yang bekerja sama dengan ahli taksonomi dari Michigan State University Dr Pamela Rasmussen menemukan spesies baru burung kacamata Togian. Sayangnya, menurut Indrawan, burung itu terancam punah.
Hal tersebut berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan Indrawan dan Sunarto antara 1997–2003. Burung dengan spesifikasi berwarna dominan hijau muda dan kacamata hitam itu hanya bisa ditemui di pesisir pulau kecil Togian dan sekitarnya. Itu pun jumlah populasinya terbatas. ’’Kami belum mendapatkan jumlah populasi pastinya. Namun, burung ini terancam punah,” tuturnya saat konferensi pers di Laboratorium Widya Satwa Loka Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),Cibinong,Bogor, kemarin.
Indrawan mengungkapkan, penemuan yang dianggap sebagai spesies baru itu setelah mendapat konfirmasi ahli taksonomi Dr Pamela Rasmussen.Atas temuannya itu,burung yang statusnya endemik ini diberi nama Zosterops somadikartai. Nama Somadikartai diambil dari nama peneliti senior kenamaan Indonesia bidang ornitologi, Profesor Dr S Somadikarta yang telah banyak mengoleksi temuan spesies burung baru dan mencantumkan namanya pada nama burung itu.
Bahkan, nama Somadikartai tidak hanya diabadikan pada spesies burung,juga pada tingkat genus burung di Indonesia. Penemuan ini sudah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Wilson Journal of Omithology edisi Maret 2008 ini. Jurnal tersebut merupakan jurnal ornitologi paling terkemuka di Amerika Serikat (AS).Tidak hanya temuan Indrawan dan Sunarto yang dijadikan headline jurnal tersebut, yang lebih membanggakan lagi, ilustrasi gambar burung kacamata Togian di sampul depan jurnal itu merupakan hasil karya seniman anak negeri asal Yogyakarta, Agus Prijono.
Dalam sejarah,baru pertama kali ini karya ilustrator alam anak negeri menjadi cover jurnal ilmiah kelas dunia. Indrawan menambahkan, burung kacamata Togian dikenal pertama kali dalam dunia ilmu pengetahuan setelah 12 tahun diamati di lapangan. Umumnya, burung kacamata itu ditemukan dengan warna kacamata putih di seputar mata.
Sementara itu, warna kacamata spesies baru Zosterops somadikartai ini kemerahan dengan paruh lebih kemerahan dibandingkan lainnya. Berdasarkan catatannya, di Indonesia terdapat berbagai spesies burung kacamata. Burung itu tersebar di Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya, yang terdapat kurang dari 10 taksa (satuan spesies dan subspesies),yang di dalamnya termasuk enam spesies.
’’Jumlah taksa tersebut ada di Sulawesi dan pulau-pulau kecil di sekelilingnya. Bahkan, itu mencapai 15 taksa, termasuk sembilan atau 10 spesies Zosterops.Beberapa spesies kacamata hanya terdapat di satu atau dua bagian pulau di Sulawesi,” ungkapnya.
Berdasarkan temuan burung kacamata ini,Kep Togian langsung mendapatkan predikat sebagai daerah burung endemik (DBE). Status ini berdasarkan kriteria BirdLife International apabila sebuah wilayah atau pulau memiliki dua spesies endemik. Sebelumnya, Indrawan dan koleganya menemukan spesies baru burung hantu di kawasan hutan Kep Togian.
Temuan spesies baru burung hantu ini diberi nama Ninox burhani. Nama ini diberikan guna mengabadikan nama petani dan pemburu setempat yang bernama Burhan. ’’Ini kami berikan dalam rangka menghargai kearifan masyarakat setempat,”ujarnya.
Karya temuan spesies baru burung kacamata Togian ini memang tergolong spektakuler. Sebab, spesies burung merupakan jenis hewan yang paling banyak diamati banyak kalangan di seluruh dunia. Tidak hanya kalangan peneliti, pencinta burung, lembaga swadaya, hingga berbagai lembaga internasional pun banyak yang mengamati keberadaan burung di muka bumi ini.
Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI Dr Dedy Darnedi menuturkan, inilah yang membuat temuan spesies baru burung menjadi sangat istimewa. Sebab, itu akan sangat menambah kaya khasanah biodiversity Nusantara. ’’Ini berbeda jika kita meneliti di bidang lain yang masih sedikit peneliti dan yang peduli di situ. Maka itu, apabila ditemukan spesies baru, itu tidaklah luar biasa,”tuturnya.
Profesor Dr S Somadikarta menyatakan, di Indonesia masih banyak potensi spesies baru burung. Semakin dilakukan eksplorasi, potensi keanekaragaman burung di dalam negeri itu akan semakin banyak. Sebab, dengan jumlah lebih dari 17.000 pulau di garis khatulistiwa dengan dua musim, tercatat sekitar 1.600 spesies di antaranya ditemukan di Indonesia. (abdul malik)
Ilustrasi gambar : hak cipta Agus Prijono (Ilustrator PILI)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment