Kamis, 15 Juli 2010

Siluet Pengalaman di Bandara Changi, Schipol, dan Soetta

Kemudahan dan kenyamanan menjadi amat penting bagi sebuah bandara. Urusan ketepatan waktu jadwal penerbangan keberangkatan dan kedatang, hukumnya wajib. Namun ketika bandara itu tidak bisa memenuhi semua kriteria tentu akan sulit untuk bersaing, kecuali hanya akan menjadi pengalaman buruk bagi penumpang yang singgah.

Membandingkan Bandara Soekarno Hatta (Soetta), dengan Bandara Internasional Kuala Lumpur Malaysia, Changi Singapura atau bahkan dengan Bandara Schipol Amsterdam memang kurang fair. Banyak orang bilang tidak aple to aple. Namun bukan berarti Bandara Soetta tidak akan mampu mengejar ketertinggalan dari tiga bandara tersebut. Faktanya beragam penilaian dari lembaga kredibel internasional sekelas Skytrax, Aiport Council International, atau lainnya tidak pernah meninggalkan satu kata kunci. Yakni pelayanan prima (excellence service).

Pengalaman bandara-bandara yang telah beroleh predikat sebagai terbaik, semacam Changi yang pada tahun 2010 ini meraih predikat sebagai bandara terbaik, tetap mengedepankan pelayanan prima. Wajar, industri bandara utamanya adalah bisnis jasa. Pelayanan memuaskan, maka sebuah bandara dianggap memiliki kinerja memuaskan pula.

Bandara Changi, Singapura memang sangat populer di kalangan pelancong melalui penerbangan. Kabarnya karena sudah dipercaya kebersihannya, penumpang tidak enggan untuk tiduran di lantai terminal bandara yang dilapisi karpet sembari menunggu jadwal keberangkatan pesawat. Toh dalam situs resminya, pihak Changi demikian bangga mencantumkan beragam capaian dan penghargaan yang telah didapatkan.

“Mengantungi lebih dari 250 penghargaan, Bandara Udara Changi Singapura dikenal sebagai salah satu bandara udara terbaik didunia. Dengan 80 maskapai yang melayani lebih dari 180 kota di 50 negara, Bandara Changi berhasil menempatkan dirinya sebagai pusat penerbangan di kawasan Asia Pasifik. Bandara Changi saat ini memiliki kemampuan menangani lebih 70 juta penumpang per tahun,” demikian sebagaimana dilansir dalam salah satu laman situs resmi Bandara Changi.

Pencitraan dan realisasi dari upaya pembenahan Bandara Changi bisa jadi memang benar adanya. Bahkan tidak sedikit anggapan yang menyatakan Bandara Changi tak ubahnya seperti mall. Sebab kebersihan dan kenyamanan yang disediakan layaknya pusat perbelanjaan berkelas. Wajar investasi yang ditanam untuk membangun dan mempersolek bandara ini mencapai miliaran dolar AS. Ketika pesawat mendarat di Bandara ini malam hari, maka Anda akan melihat terangnya lampu di sekitar bandara. Memang benar-benar futuristik.

Meski demikian, bukan berarti bandara ini tanpa cacat. Beberapa orang mengeluhkan tentang jauhnya jalur dari pintu masuk pemeriksaan imigrasi dan tiket menuju lobi bandara. Meskipun layaknya bandara lainnya, Changi dilengkapi lift yang akan mengantarkan penumpang menuju terminal yang dituju atau menuju lobi.

Catatan buruk yang sering terdengar dari kinerja Bandara Changi adalah terkait pemeriksaan imigrasi. Ketika jam kedatangan pesawat, bisa dipastikan antrean akan panjang dan harus bersabar menunggu bahkan dalam hitungan jam. Bahkan beberapa kasus, penumpang yang kebetulan memiliki nama “muslim” atau bahasa Arab silahkan bersiap untuk tertahan di keimigrasian Bandara. Tidak hanya itu, terkadang tanpa alasan jelas penahanan penumpang ini bisa terjadi pada siapa saja, tidak peduli nama dan berasal dari mana. Pengalaman pahit ini sempat dialami oleh tokoh sekelas Adnan Buyung Nasution dan Abdul Rahman Saleh 2008 silam. Alasan tidak jelas, dan tidak ada permohonan maaf dari petugas imigrasi bandara terkait insiden ini.

Salah satu rumor yang mengemuka adalah dikaitkannya proses panjang di imigrasi Bandara Changi bagi Adnan dan Arman itu dengan sosok Mas Slamat alias Kastari, tokoh teroris yang jadi buronan utama pemerintah Singapura. Konon, Adnan jadi ditanya macam-macam karena ia dicurigai sempat berperan sebagai kuasa hukum Kastari. Yah, memang terlepas dari catatan hitam tersebut fakta yang tak bisa dibantah adalah reputasi Bandara Changi sebagai bandara berkelas dunia. Tak heran jika Bandara Changi dipercaya sebagai salah satu jangkar lalu lintas udara dunia. Sehingga petugas bandara akan dengan selektif dan hati-hati menjalankan tugasnya, termasuk mencegah masuknya orang yang masuk “daftar hitam”.

Banyak orang tentu akan berfikir, orang sekelas Pak Buyung dan Pak Arman saja bisa ditahan oleh petugas imigrasi tanpa alasan yang jelas. Apalagi masyarakat umum biasa? Pengalaman serupa juga sempat dialami oleh keluarga dari teman saya, yang kebetulan memiliki nama muslim. Untuk yang satu ini, secara pribadi saya memiliki pengalaman serupa pada Desember 2009. Pada saat itu, saya sedang menghadiri undangan liputan dari salah satu perusahaan yang berkantor di Singapura.

Namun saya lebih beruntung karena dengan profesi sebagai jurnalis dan kemampuan berbahasa Inggris meski pas-pasan, pihak pegawai keimigrasian Changi akhirnya memberikan stempel ijin masuk di paspor saya, meski harus rela menunggu hampir dua jam. Hal ini kemudian terulang kembali ketika saya melewati perbatasan Malaka-Singapura. Sekali lagi saya harus melalui proses wawancara dengan kepala keimigrasian setempat hanya karena masalah nama.

Namun bapak mertua kawan saya sangat tidak beruntung. Dia memiliki nama “muslim” namun sayang kurang memiliki ketrampilan berbahasa Inggris, sehingga harus rela kembali ke tanah air tanpa bisa menghadiri undangan yang dia dapatkan. Barangkali jika didaftar, mungkin banyak pengalaman serupa yang dialami oleh penumpang yang melintasi Bandara Changi Singapura. Sebagai bandara berkelas internasional, Changi memang layak mendapatkan predikat sebagai bandara kelas dunia. Namun demi predikat sebagai bandara kelas dunia, maka proses pemeriksaan keimigrasian menimbulkan ketidaknyamanan? Tentu hanya pihak manajemen Bandara Changi yang bisa menjawabnya bagaimana kualitas pemeriksaan tetap optimal namun tidak terkesan arogan dan serampangan.

Bagaimanapun proses pemeriksaan di Changi masih lebih efisien ketika membandingkan dengan Bandara Soetta. Jika di Bandara Soetta, pemeriksaan bagasi dan kabin mesti dilakukan dua kali dan terkesan tidak efisien. Pengalaman sedikit ekstrem namun efisien akan Anda temui ketika memasuki Bandara Schipol Amsterdam, Belanda. Di bandara setiap penumpang yang akan berangkat akan diperiksa seluruh isi tasnya. Barang-barang elektronik, semacam lapotop, jam tangan, telepon seluler, bahkan hingga barang metal lain seperti gasper, hingga sepatu dan jaket harus dilepas.

Namun pemeriksaan ternyata cukup satu kali, dan setelah lolos Anda akan dapat melenggang dengan tenang melihat-lihat suasana bandara dan terminal transit. Tentu saja, layaknya bandara internasional lainnya, Bandara Schipol dilengkapi beragam etalase toko pakaian, restoran dan beragam pernak-pernik souvenir yang bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Harganya pun tidak jauh berbeda dengan harga pasaran di Amsterdam. Hingga saat ini, belum santer terdengar tentang ketidaknyamanan penumpang pemeriksaan keimigrasian di Schipol akibat tertahan karena masalah nama. Yang jelas, jika memang Anda tidak memiliki niat buruk, surat-surat lengkap, kecil kemungkinan mendapatkan masalah di Schipol.

Pastinya tidak hanya di Changi, Schipol, maupun Kuala Lumpur, ketiganya dilengkapi dengan fasilitas dan sarana yang memberikan kenyamanan kepada penumpang. Fasilitas internet wi-fi, serta pengumuman jadwal keberangkatan dan kedatangan pesawat yang dipasang di layar monitor bisa ditemui hampir di mana-mana. Ketiganya serba mengedepankan desain futuristik. Sangat berbeda dengan Bandara Soetta yang menurut Humas PT Angkasa Pura II lebih mengedepankan konsep natural dan etnik. Konsep kembali ke alam dan etnik tentu bisa menjadi nilai lebih bagi Bandara Soetta dibandingkan bandara lain.

Namun sayangnya, kenyamanan dan kebersihan bandara belum optimal. Apalagi ketika Anda baru keluar dari Bandara, sampai di lobi akan disambut oleh puluhan sopir taksi tembak tanpa argo, atau pegawai tukang angkut yang terkadang lebih sering memaksa ketimbang menawarkan jasanya secara suka rela. Benar-benar potret riil kondisi perekonomian negeri ini, sehingga masyarakat harus mencari rejeki dengan berbagai cara termasuk sedikit memaksa kepada calon penumpang. Saya yakin, jika Bandara Soetta telah berhasil berbenah dengan kelebihannya bisa melampaui prestasi Changi, Schipol, maupun Kuala Lumpur. (abdul malik)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment