

Pisang Goreng Pontia
Baru Berdiri 5 Bulan, Omsetnya Sudah Mencapai Rp 12 Juta per Hari
•Untung Bersih per Bulan Rp 72 Juta
Ternyata untuk melakukan bisnis yang menguntungkan tidaklah selalu membutuhkan modal besar. Meskipun hanya dari sesuatu yang kelihatannya sepele, menjual pisang goreng. Dengan sedikit inovasi, Pisang Goreng Pontia yang baru dibuka 5 bulan lalu ini, kini laris manis diserbu pembeli. Menurut Robby, sang pemilik, dari 5 outlet-nya ia mampu meraup omset Rp 12 juta per hari dengan keuntungan bersih 20% dari omset atau Rp 2,4 juta per hari. Apa rahasia suksesnya?
Siapa bilang pisang goreng adalah makanan cemilan tidak berkelas. Buktinya, Pisang Goreng Pontia mampu menggaet pelanggan dari segala kalangan. Bahkan pengendara Mercedes Benz rela antre selama 1,5 jam untuk mendapatkan pisang goreng yang bahan bakunya pisang kepok yang langsung didatangkan dari Pontianak ini. Tidak hanya itu, saking panjang antrean pembeli terkadang mengakibatkan jalanan di mana outlet berada menjadi macet. Apa kelebihan pisang kepok goreng berbungkus tepung keripik tebal ini? Bidjan Robidjan (Robby), pemilik outlet Pisang Goreng Pontia mengaku tidak ada kelebihan yang istimewa dari pisang goreng hasil racikannya.
“Berawal dari setiap kali orang membeli selalu minta kripiknya atau tepungnya. Tolong dong kripiknya ditambahin. Bagaimana caranya supaya orang tidak perlu lagi meminta keripiknya. Tapi terbawa oleh pisangan. Akhirnya saya inovasi, cari mencari akhirnya ketemu seperti ini, kemudian dibungkus. Ada orang komentar, ini pisang tiga kali digigit belum ketemu pisangnya,” ungkap Robby berkelakar.
Ternyata benar saja, dengan sedikit inovasi itu, animo pembeli membludak. Pisang goreng yang dijual Rp 2000 per buahnya itu selalu habis terjual. Outlet Bintaro, Cibubur, dan Kosambi, Daan Mogot yang sedianya dibuka mulai pukul 14.00 - 23.00 WIB, ternyata pukul 20.000 WIB saja pembeli sudah tidak kebagian. Sementara untuk outlet di Sunter Agung, Jakarta Utara robby buka pagi pukul dari pukul 06.00 - 10.00 WIB.
Untuk 5 outlet-nya, saat ini, Robby dibantu 50 orang karyawan, dan rata-rata per hari membutuhkan pasokan 1 ton pisang kapok. Nama Pisang Goreng Pontia sendiri namanya telah dipatenkan sejak Agustus 2005 silam ini.
“Pisang goreng identik dengan gerobak dorong dan penjualnya mengenakan celana pendek dan tidak rapi. Itu yang ingin saya ubah. Semua karyawan mengenakan seragam, harus bersih dan pemilihan lokasi juga saya sewa tempat yang strategis,” ujar Robby.
Modal Awal Rp 300 Ribu
Robby berkisah, ketika ia membuka outlet pisang goreng di depan apotek miliknya di Jl. Mawar No 63, Sunter Agung Agustus 2005 silam, saat itu ia hanya membutuhkan modal awal Rp 300 ribu dan belum menggunakan tenaga karyawan. Modal ini dibelikan 1 penggorengan yang saat itu hanya seharga Rp 60 ribu, kompor seharga Rp 190 ribu, sementara sisanya dibelikan alat-alat lain seperti capit, baskom, dan alat rumah tangga lainnya yang ia beli dari Jembatan Lima, Jakarta Barat. Untuk outlet Sunter harga penjualan pisang goreng lebih murah yaitu Rp 1.200 per buah, dibanding 4 outlet lainnya yang seharga Rp 2.000 per buah.
Perbedaan harga jual ini dikarenakan, segmen pasar di daerah Sunter berbeda dengan 4 outlet lainnya. Pengemasannya dibuat berbeda, yakni untuk outlet Sunter, pisang goreng dibuat biasa tidak dibungkus dengan kripik tepung tebal seperti outlet lainnya. “Di situ kita nggak bungkus pakai tepung , biarlah dia seperti apa adanya pisang goreng. Dijual pagi saja, dari jam 6 - 10 pagi sudah tutup,” kisah Robi.
Namun saat membuka outlet di Sunter, dewi fortuna masih belum menyertai bisnis Robby. Kemudian outlet kedua dibuka di Jl Kalimati, Gunung Sahari, Jakarta Pusat dengan bantuan 3 karyawan. Untuk outlet yang satu ini pun, penjualan masih belum ramai. Menurut Robby, ini dikarenakan lokasi yang tertutup dan kurang strategis. Sehingga jarang ada orang yang mampir untuk membeli Pisang Goreng Pontia. Kemudian dibukalah outlet ketiga, di Kosambi, Daan Mogot, Jakarta Barat. Ternyata, pembukaan outlet ketiga mendapat respon yang luar biasa dari pembeli. Kemudian, buka lagi outlet yang keempat dan kelima, di Bintaro, Jakarta Selatan, dan Cibubur. Untuk 2 outlet yang terakhir ini, animo pasarnya luar biasa. Bahkan harus rela berdiri (berbaris) berjam-jam untuk bisa membeli pisang yang digoreng di 2 penggorengan ini.
Pisang Kepok 1 Ton per Hari Didatangkan dari Pontianak
Guna menjaga kualitas, Robby langsung mendatangkan pisang kepok dari Pontianak. Dengan menggunakan jasa kargo pesawat, setiap hari sebanyak 1 ton pisang kepok didatangkan dari Pontianak, baik dalam keadaan tandan maupun sisir. Untuk memenuhi kebutuhannya ini, Robby mengandalkan bantuan saudara iparnya yang tinggal di Desa Sungai Purun Besar, Kec. Siantan, Kab. Pontianak. Guna melancarkan pekerjaan hunting pisang siap panen ini, Robby telah menyediakan 1 sepeda motor untuk digunakan saudaranya mencari perkebunan pisang yang siap panen. Untuk mengerjakan tugas pengikatan pisang sebelum dibawa ke Jakarta, kakak ipar Robby, melibatkan 6 orang karyawan. Maklum, setiap hari kebutuhan pisang kepok mencapai 1 ton.
“Tadinya pisang-pisang kepok di kampung saya tidak ada yang ambil atau yang beli, jadi sampai matang di pohon, hingga ditebang. Sekarang malah kekurangan dan kita banyak ambil ke kota yang lain,” kata Robby.
Apa kelebihan pisang kepok Pontianak dibanding pisang kepok dari daerah lain? Konon secara geografis, tanah Pontianak lebih subur karena merupakan tanah lahan gambut. Tidak hanya pisang kepok yang bisa tumbuh subur dengan buah yang padat dan manis. Namun tanaman lain yang ditanam di sana, hasilnya bisa menjadi lebih baik ketimbang ditanam di daerah lain. Ambillah contoh, lidah buaya yang ditanam di sana, katanya ukuran daunya selebar telapak tangan orang dewasa dan beratnya mencapai 1,5 kg per daunnya. Untuk itulah Robby, hingga saat ini masih mengambil pisang kepok dari Pontianak, karena bisa dijamin, pisang kepok itu benar-benar tua dan matang di pohon. Sehingga tidak perlu karbit untuk membuatnya matang.
Manajemen pasokan bahan baku, meskipun setiap hari diupayakan untuk mendatangkan pisang kepok sebanyak 1 ton, namun Robby berusaha untuk menyetok, agar tidak kekurangan bahan baku. Biasanya dalam waktu 2 minggu, 1 hari ada yang stop tidak mengambil bahan baku. Untuk antisipasi, terkadang dalam 1 kali pengiriman Robby mendatangkan 2 ton pisang kepok, untuk kemudian distok. Cara menyimpannya agar tidak kematangan, Robby menempatkannya di ruang ber AC di ruang tamu rumahnya. Namun jika pisang yang datang masih banyak yang belum matang, maka harus dibekap menggunakan kain, agar esok harinya bisa dijual. Untuk mengambil pisang dalam 1 tandan pun, ada trik khususnya. Harus mulai dari atas untuk kemudian ke bawah.
Mengenai harga pisang kepok, Robby mengaku pisang kepok dari Pontianak lebih mahal 30% setelah ditambah ongkos kargo dibanding harga pisang kepok dari Jakarta. Untuk bahan lain seperti tepung terigu, vanili, minyak goreng, dan bahan lainnya, dibeli dari Jakarta.
“Dari segi kualitas rasa, pisang kepok yang benar-benar tua kalau digoreng rasanya manis dan tidak kempes. Sementara kalau pisang yang matang karena karbit, biasanya kalau dimasak jadi kempes, dan rasanya agak sedikit asem dan sepet,” tutur Robby.
Tidak Ingin Buka Franchise
Karena saking larisnya Pisang Goreng Pontia, hingga saat ini Robby mengaku telah banyak calon investor yang menawarinya kerja sama. Bayangkan saja, dalam 1 hari rata-rata omset penjualan Pisang Goreng Pontia dari 5 outlet mencapai Rp 12 juta dengan keuntungan bersih 20%. Namun Robby mengaku tidak tertarik untuk bekerja sama dengan sistem franchise. Alasannya, sistem ini dianggap terlalu rumit. Untuk itu Robby hanya akan memberlakukan kerja sama dengan mekanisme bagi hasil/keuntungan. Namun Robby sendiri belum menemukan mekanisme kerja sama yang pas. Hingga saat ini, Robby yang sebelumnya berprofesi sebagai pengusaha di bidang kapal kargo yang kemudian tutup ini, menyatakan belum sempat mengambil kredit.
Obsesi Robby, ingin mengangkat nama pisang goreng menjadi lebih berkelas. Tidak hanya kelas outlet seperti miliknya saat ini, namun juga kelas resto. Bisa menikmati pisang goreng di tempat tanpa harus antre. Dari beberapa investor yang menawarinya kerja sama tampaknya mengamini keinginan Robby ini. Namun hingga saat ini masih dalam proses negosiasi. Untuk cabang luar daerah pun, telah ada calon investor yang menyanggupi buka cabang Pisang Goreng Pontia dengan kualisfikasi yang diajukan Robby. Malik
Asumsi Pendapatan Pisang Goreng Pontia
- Omset per hari Rp 12 juta
- Biaya operasional : (bahan baku, sewa tempat, karyawan, listrik, telepon, dll) = Rp 9,6 juta
- Keuntungan 20 % = Rp 2,4 Juta atau per bulan keuntungan bersihnya Rp 72 juta.
Info Lebih Lanjut :
Pisang Goreng Pontia (Robby)
Jl Mawar No.63 Sunter Agung
Jakarta Utara. Telp. (021) 70778828
(Artikel / tulisan ini berdasarkan hasil wawancara saya dengan Robby dan pernah dimuat di Tabloid Peluang Usaha 2006 silam)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment