Kamis, 27 Desember 2007

Reptil Asing Misterius di Papua Nugini


Reptil Asing Misterius di Papua Nugini
Kamis, 27/12/2007

JAKARTA(SINDO) – Papua Nugini menyimpan berbagai variasi biodiversity sehingga disebut sebagai megadiversity.Pulau sebelah Papua ini juga bagian dari lima pusat biodiversitydunia.
Selama ekspedisi di pulau ini,tim peneliti dari Universitas Negeri Lousiana menemukan setidaknya 10 spesies reptil baru. Selama ekspedisi yang dipimpin Asisten Kurator Herpatologi dan Asisten Profesor Ilmu Biologi dari Universitas Negeri Lousiana, Amerika Serikat (AS), Chris Austin, bersama beberapa tim peneliti pada area hutan hujan di Sepik Basin, bagian utara Papua Nugini, ternyata ditemukan 79 spesies ular,kadal,dan katak yang mewakili 40 genre dari 11 famili.
Sebanyak 10 spesies reptil dan amfibi diyakini sebagai spesies baru.’’’Saya benar-benar tertarik untuk mengonservasi flora dan fauna di pulau yang indah ini,” tuturnya, yang mengadakan penelitian bersama CJ Hayden,mahasiswa Doktoral di Universitas Negeri Lousiana; Chrisl Dahl dari Universitas Papua Nugini; dan Jim Anaminiato,seorang peneliti pada Museum Nasional Papua Nugini.
Selama ekspedisi ini, Austin menyurvei serta mencatat reptil dan amfibi sekaligus guna menemukan spesies baru.Tim peneliti pun mengumpulkan material genetis untuk menguji skala polanya. Hal itu agar memberikan pemahaman terhadap masyarakat tentang keanekaragaman hayati di pulau tersebut. Mereka menelusuri Papua Nugini yang secara ekstrem memiliki keterbatasan sistem transportasi untuk memulai ekspedisi mereka.Mereka memulainya dengan perjalanan udara menyusuri Sungai Gedik, sebuah anak Sungai Sepik di bagian utara.Sungai itu bisa jadi merupakan sungai dengan sistem aliran yang paling tidak terkontaminasi di Australasia dengan daerah tangkapan sekitar 30.900 mil2 atau 80.000 km2.
Para peneliti bekerja siang dan malam untuk menelusuri berbagai spesies reptil dan amfibi di pulau ini.Koleksi katak dan identifikasinya memang menemui kesulitan. Banyak spesies katak yang diidentifikasi memiliki suara jantan.
Untuk mengidentifikasi katak tersebut dibutuhkan kesabaran ekstra agar kegiatan pengumpulan, identifikasi, dan deskripsi katak tetap berjalan baik. Austin menambahkan, dengan bantuan beberapa masyarakat setempat, tim peneliti mulai menelusuri hutan hujan yang mengelilingi pedesaan di Papua Nugini. Beberapa spesies baru itu di antaranya kadal pohon berwarna hijau dari kelompok Prasinohaema virens,yang merupakan salah satu kadal berdarah hijau yang dideskripsikan dari Papua Nugini.
Kemudian,spesies baru katak dari genus Hylophorbus. ’’Spesies baru dari kelompok Ophimegistus spectabilis dideskripsikan dari Papua Nugini. Ini merepresentasikan spesies ke-13 dari genus ini, untuk kadal Papua Nugini,”tutur Austin.
Sebuah pengevaluasian, ujar Austin, terutama mengenai genus spesies kadal, tidaklah harus dibatasi.Namun, tidak ada bukti khusus bagi individual kadal ini, khususnya untuk wilayah geografi di Papua Nugini. Menurut Austin, wilayah kepulauan di Papua Nugini memang diidentifikasi sebagai daerah megadiversity. Sebab, 5–7% biodiversity dunia berada di wilayah ini. Padahal, areanya hanya sekitar 0,6% dari dataran di dunia. Meskipun itu sangat penting, sebagai titik keberadaan keanekaragaman hayati, kehidupan liar Papua Nugini masih minim dipelajari.
Salah satu kelompok reptil di Papua, di antaranya genus Ophiomegistus. Spesies dari genus ini tidak biasa ditemui di antara dasar Mesostigmata bahkan dalam keluarga Paramegistidae, atas pengelompokan mereka dengan vertebrata, dibandingkan dengan antropoda. Pemahaman flora dan fauna di Papua Nugini masih minim, di antaranya untuk spesies kadal (17 spesies),ular (3 spesies),yang belumlah terlalu matang.
Secara biogeografis, genus di sana dibatasi oleh wilayah Australasia, tapi mayoritas spesies telah dilaporkan dari Nugini. Jenis kadal terbaru yang ditemukan itu dari Pulau Rambutyo (Papua Nugini) yang menunjukkan beberapa spesimen spesies baru Ophiomegistus yang dikumpulkan oleh beberapa individu Sphenomorphus pratti (Scincidae). Selama perjalanan yang dilakukan Austin dan timnya, beberapa temuan spesies kadal dan ular yang telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, di antaranya seekor ular yang belum diketahui genus dan familinya yang ditemukannya dari Jayapura, Papua Barat.Kemudian,Liasis albertisii (Boidae), Micropechis sp (Elapidae) dan Micropechis sp (Elapidae) dari Provinsi Madang, Papua Nugini.
Sementara itu, Emoia longicauda, Emoia jakati, Lipinia noctua, Lamprolepis smaragdina ditemukan di Provinsi Sepik Timur,Papua Nugini serta puluhan spesies kadal dan ular lainnya. Selain fauna, flora di Papua Nugini juga unik karena memiliki dua sumber origin (asal-usul). Flora Gondwana dengan asalusul dari selatan dan Asia membuat wilayah itu memiliki kebanyakan famili serta genre Australia dan Asia Timur.Namun,banyak juga spesies lokal yang bersifat endemik. Sifat endemik ini disebabkan gunung-gunung yang masih terisolasi, topografi dan habitat yang heterogen,serta musim yang mendukung. Di Papua Nugini terdapat 15.000–21.000 jenis pohon tanaman tinggi,3.000 spesies anggrek, 800 spesies karang, 600 spesies ikan,250 spesies mamalia,dan 760 spesies burung, dan 8 spesies kanguru pohon.
Di luar itu semua,sebanyak 84 genre famili merupakan spesies endemik. Setahun yang lalu, pada Oktober 2006, organisasi penggiat lingkungan World Wildlife Fund (WWF) juga telah menemukan beberapa spesies baru anggrek di Papua Nugini.Mereka menemukan 20 jenis spesies anggrek yang potensial sebagai spesies baru di wilayah Kikori mengelilingi danau Kutubu,yang dikenal secara internasional sebagai pusat biodiversity. ’’Pulau di Papua Nugini memang masih menyimpan berbagai jenis anggrek yang eksotis,” tutur Wayne Harris, ahli botani dari Herbarium Queensland.
’’Ada lebih dari 3.000 spesies yang ditemukan di sini dari berbagai macam variasi bentuk,yang hingga saat ini belum semua ditemukan,” ujarnya. Penemuan beberapa spesies flora baru di Papua Nugini tersebut menambah daftar kekayaan spesies langka di wilayah sebelah Provinsi Irian Jaya Barat tersebut. Sebelumnya, ahli konservasi juga mengumumkan 52 spesies baru lautan, yang ditemukan di kepulauan Papua yang masuk wilayah Indonesia. Kemudian, seekor jenis burung spesies baru ditemukan di utara India, yang spesies baru burung pertama di negara itu ditemukan lebih dari setengah abad. (liveScience/berbagai sumber/abdul malik)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment