Kamis, 27 Desember 2007

70% Spesies Primata Indonesia Terancam Punah



70% Spesies Primata Indonesia Terancam Punah
Sabtu, 22/12/2007
70% dari 40 spesies primata yang ada di Indonesia dalam status terancam punah. Pembalakan liar, penangkapan ilegal, konversi lahan hutan,serta perubahan alam jadi penyebabnya.
JAKARTA(SINDO) –Total spesies primata di dunia sekitar 200 jenis, 25%-nya atau 40 spesies berada di Indonesia. Sayangnya, menurut Kurator Mamalia Taman Margasatwa Ragunan Dedi Ruswandi, hampir semua spesies primata di Indonesia berstatus terancam punah. Dari 40 spesies yang tercatat, belasan di antaranya merupakan spesies endemik. Seperti Owa Jawa (Hylobates moloch) yang ditemukan hidup di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Lalu, Bekantan Kalimantan juga berstatus spesies endemik hanya ditemukan di Pulau Kalimantan, 7 spesies endemik hidup di Sulawesi, 3 spesies hidup di Kepulauan Mentawai. “Hingga saat ini belum ada sensus yang dilakukan secara serius untuk mengetahui berapa jumlah populasi primata sebenarnya yang ada di Indonesia.Yang jelas, 70% di antaranya sudah berstatus terancam punah dan jika tidak segera dikonservasi mereka akan benar-benar punah,” paparnya kepada SINDO.
Kepunahan itu dipercepat dengan terputusnya habitat sehingga mengakibatkan keanekaragaman menurun. Selain itu, berbagai kegiatan perburuan liar mendapatkan bayi primata untuk dijadikan suvenir, kepemilikan ilegal, serta perdagangan primata mempercepat proses kepunahan. Memang langkah untuk mengonservasi hewan yang terbagi dalam dua kelompok besar yakni Prosimian (primata primitif) dan Anthropeida (primata dunia baru) ini masih menemui banyak kendala.
Pengelompokan ini berdasarkan daerah penyebaran dan penemuannya. Menurut Dedi, tidak hanya sensus spesies secara menyeluruh yang belum dilakukan di Indonesia, namun kepentingan konservasi masih dikalahkan kepentingan industri ekonomi. Akibatnya, konservasi lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit atau tanaman lain semakin mengancam habitat ini. Sebagai contoh, di Kalimantan yang dilakukan konservasi lahan hutan secara besar-besaran menjadi kebun sawit.
Hutan yang sebelumnya menjadi lokasi hidup orangutan Kalimantan tak pelak telah berubah. Jika sudah begini bukan saja, primata menjadi tersingkir namun hewan yang konon menurut teori Darwin merupakan moyang manusia itu pun dianggap sebagai musuh manusia. Sebab, orangutan sering turun ke perkebunan dan merusak lahan kelapa sawit sehingga dia dianggap sebagai hama.
Jika sudah begini keadaannya, tidak jarang orangutan tak berdosa itu akhirnya harus dibunuh secara kejam oleh ambisi manusia agar lahan sawitnya tidak terganggu. “Karena tempat habitatnya sudah dikonversi,akhirnya seolah terjadi perebutan lahan. Orangutan dan manusia sama-sama berebut lahan mencari makan.Seharusnya, untuk lahan-lahan tertentu yang didiami spesies hewan terutama yang bersifat endemik itu memang tidak boleh dikonversi.Bahkan,masyarakat setempat saja masih memiliki kearifan budaya lokal dalam memanfaatkan hutan,”paparnya.
Tercatat spesies primata yang telah dikonservasi ke Taman Margasatwa Ragunan total sebanyak 28 jenis spesies jumlah populasi 367 ekor.Sebanyak 22 jenis spesies di antaranya ditempatkan di Pusat Primata Schmutzer, dengan total populasi sebanyak 125 ekor. Seperti, lemur hitam (3 ekor), malu-malu (6), tarsius (1), yaki (7), dige (7), boti (7),monyet ekor panjang (12),lutung perak (12),lutung Jawa (10), surili (2).
Kemudian, simpai (3), bekantan (1), siamang (4), siamang kerdil (2),wau-wau coklat gelap (4),wau-wau hitam alis putih (3),wau-wau coklat terang (4),owa Jawa (10), kelawat (2), orangutan Kalimantan (14),simpanse (5),dan gorila dataran rendah (4). Dari jumlah itu, 59 ekor berjenis kelamin jantan dan 61 betina.
Sedang 5 ekor lainnya belum diketahui. Meskipun jumlah populasi primata yang telah dikonservasi di Taman Margasatwa Ragunan sudah berjumlah ratusan.Namun kenyataannya, jumlah spesiesnya baru sekitar 28 dari total 40 spesies di Indonesia. Kekhawatirannya,12 spesies yang pernah dilaporkan tersebut sudah telanjur punah sebelum sempat dikonservasi.
Kenyataannya,hingga saat ini di Asia hanya dua negara yang dipercaya untuk mengonservasi gorila hanyalah Indonesia dan Jepang. Perawatan spesies primata jenis kera besar ini memang cenderung lebih ketat.Sebab,habitatnya di alam hewan yang berasal dari Afrika itu memang sudah terbatas.
Memang Indonesia baru dipercaya mengelola salah jenis spesies gorila,yakni gorila dataran rendah (gorilla gorilla gorilla). Selain itu, karena asal muasal gorila memang berasal dari daerah tropis, sehingga suhu dan iklim Indonesia memang cocok untuk gorila. “Memang agak sulit dan ketat kriteria untuk mengelola dan merawat gorila. Sebab, banyak hal yang harus dipenuhi.
Di Indonesia sendiri, ada lima sampel tanah yang harus diambil dan diteliti apakah kondisi tanahnya cocok dan tidak mengandung virus yang bisa menyebabkan sakit tenggorokan gorila,”katanya. Ternyata memang tidak mudah untuk konservasi spesies hewan. Seperti halnya badak Jawa yang tidak bisa hidup kecuali hanya di habitat aslinya.
Menurut dia, memang sempat jenis badak Sumatera pernah dikonservasi di luar habitat aslinya 1950-an dikonservasi di Denmark,namun itu tidak diketahui apakah bisa berkembang biak dengan baik ataukah tidak. Kemudian pada tahun 1986, baru badak Sumatra dicoba dikonservasi di Inggris dan Amerika Serikat. Konservasi di Inggris tidak berhasil,kecuali di AS itu berhasil. Namun,kemudian salah satu anakannya dikembalikan ke habitat aslinya di Way Kambas Sumatera.
Sebab, kata dia, di antara lima jenis badak di dunia spesies badak Sumatra merupakan yang paling primitif. Bentuk badannya lebih kecil dan berbulu seperti kerbau. Badak Jawa bentuk badannya mirip badak India,namun kenyataannya hingga saat ini memang belum bisa dikonservasi di luar habitat aslinya.
Bisa jadi jenis spesies primata di Indonesia yang endemik juga tidak bisa dikonservasi di luar wilayah habitatnya. Untuk itu,konservasi sebelum terjadi kepunahan memang sudah mutlak untuk dilakukan. Memang berdasarkan ciri tubuh, primata yang berasal dari kata Primus (bahasa latin) yang berarti yang pertama atau hewan tingkat tinggi dari kelompok mamalia dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar.
Yakni primata primitif (Prosimian) di antaranya tarsius dan kukang. Kemudian kelompok monyet yang di dalamnya termasuk monyet dan monyet daun. Untuk kelompok monyet ada monyet ekor panjang dan boti.Sedang untuk kelompok monyet daun ada lutung, surili,dan bekantan.
Kelompok besar ketiga yakni jenis kera (Ape), baik kera besar dan Owa.Kelompok kera besar di antaranya gorilla, simpanse,bonobo,dan orangutan. Sedang untuk kelompok Owa ada Siamang, Owa Jawa, dan Kelawat. Menurut Dedi,manusia juga termasuk golongan primata. Secara keseluruhan jenis primata sudah mengalami spesialisasi untuk hidup di pepohonan. (abdul malik)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment