Sunday, 12 October 2008
Green architecture (arsitektur hijau) masih belum dianggap seksi bagi sebagian besar arsitek dalam negeri.Sebab,tidak ada perbedaan penghasilan dibanding arsitektur konvensional.
Perkembangan arsitektur hijau tak terlepas dari kondisi perubahan iklim dan pemanasan global yang terjadi di dunia saat ini. Tak ayal, konsep arsitektur hijau begitu marak dikampanyekan di sejumlah negara.
Bahkan, para arsitek di penjuru dunia berlombalomba mengembangkan konsep ramah lingkungan ini dalam bentuk bangunan dan tata ruang.Setidaknya, konsep arsitektur hijau saat ini telah menjadi tren, tetapi tren ini kurang diminati di Tanah Air.
Arsitektur hijau masih dianggap mahal, tidak efisien, dan minim peminat.Wajar jika arsitek di dalam negeri juga kurang berminat mengimplementasikan konsep tata bangunan yang ramah lingkungan ini.
Selain itu, pemerintah sebagai pembuat kebijakan belum melihat arsitektur hijau sebagai investasi jangka panjang dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim. Itulah sebabnya belum banyak kalangan arsitek dalam negeri yang ingin berkiprah sebagai arsitek hijau.
Arsitek konsep hijau Kalayman Architect,Doddy H Subagya, menjelaskan, sebenarnya sebagian besar arsitek di Tanah Air ingin mengimplementasikan konsep hijau dalam tata bangunannya.
Sayangnya, belum banyak ma-syarakat yang berminat untuk menggunakannya sehingga selera pasarlah yang menentukan apakah seorang arsitek mengimplementasikan konsep hijau atau tidak. ”Ini karena masih ada salah persepsi di masyarakat tentang arsitektur hijau.
Mereka berpikir hijau berarti harus banyak pohon di sekeliling rumah dengan menyediakan lahan yang luas.Padahal,tidak demikian, sebab arsitektur hijau merupakan sebuah konsep yang bisa diaplikasikan ke dalam banyak gaya desain dan tata ruang,”ujarnya kepada SINDO.
Menurut Doddy, sebenarnya konsep hijau itu minimal memenuhi dua persyaratan, yakni mempertimbangkan sirkulasi udara dan akses sinar matahari yang memadai. Sebab, kondisi demikian akan meminimalisasi penggunaan pendingin ruangan yang tidak hanya boros energi,tetapi juga mengandung zat yang bisa merusak lapisan ozon.
Kemudian, juga meminimalisasi penggunaan energi listrik penerang ruangan karena sudah dipenuhi sinar matahari.Lebih jauh dia menjelaskan, arsitektur hijau sangat mempertimbangkan faktor reuse, reduce,dan recycle dalam semua bahan material yang digunakan.
Sebab, konsep hijau juga mempertimbangkan pengelolaan air resapan dan limbah yang benar-benar mempertimbangkan faktor lingkungan. ”Meskipun di luar negeri sudah menjadi tren, bagi masyarakat Indonesia, arsitektur hijau masih hanya dipahami kalangan menengah ke atas.
Sulit sekali untuk memberikan pemahaman pentingnya konsephijauuntukkalanganmenengah ke bawah karena faktor tingkat pendidikan dan ekonomi,”ujarnya. Padahal, menurut dia, konsep hijau sebenarnya sudah banyak dipraktikkan sebagian besar rumah tradisional tropis di Indonesia.
Misalnya, rumah Joglo di Jawa yang mempertimbangkan pentingnya sirkulasi udara dengan meninggikan atapnya. Begitu juga dengan rumah panggung di luar Jawa atau Rumah Betang ala masyarakat Dayak.
Kaidah-kaidah pelestarian alam yang sudah dipraktikkan masyarakat Indonesia sejak dulu itu telah tergantikan dengan berbagai gaya bangunan impor dalam bentuk rumah kaca dan beton. Padahal, gaya-gaya desain mediterania, minimalis, ataupun klasik Eropa bisa diaplikasikan dengan mempertimbang kan kaidah-kaidah arsitektur hijau.
”Mengaplikasikan konsep hijau atau tidak, penghasilan praktisi arsitektur tetap sama saja. Sebab, hijau adalah sebuah konsep,bukan gaya,”ujarnya. Sementara itu, dosen Fakultas Teknik Universitas Kristen Petra Surabaya Jimmy Priatman mengatakan, saat ini pembangunan gedung hijau (green building) di Indonesia masih minim.
Penyebabnya, selain belum dibuatnya standar baku, ada paradigma masyarakat yang salah kaprah.Padahal,selain untuk penghijauan,manfaatnya juga untuk mengurangi emisi karbon. Selain itu, karena kriteria gedung hijau itu harus menggunakan material lokal, sebenarnya hasil yang diperoleh pun lebih hemat.
Mempertimbangkan manfaat jangka panjang, gedung hijau merupakan investasi yang menguntungkan. ”Dengan kriteria harus hemat air dan listrik serta material bisa didaur ulang dan rancang bangun yang mendukung kesehatan penghuninya. Ini hanya masalah konstruksi berpikir.
Sebab, pengembang, pemilik gedung, hingga masyarakat banyak yang berpikir bahwa investasi gedung hijau itu mahal. Sebenarnya tidak demikian,” ujar Jimmy. Salah satu kriteria standar pembangunan gedung hijau itu harus menggunakan material yang diambil maksimal 50 km dari tempat gedung dibangun.
Hal tersebut untuk meminimalisasi pemborosan energi. Salah satu contohnya, ketika diproduksi,material marmer sudah menggunakan energi.Kemudian, ketika didistribusikan ke tempat pembangunan gedung, itu pun membutuhkan alat transportasi yang menggunakan energi.
Semakin jauh lokasi antara pembelian material dengan tempat pembangunan gedung, semakin banyak pemborosan energi sehingga bahan material didapatkan di lokasi terdekat maka akan semakin hemat energi. ’’Jika saya harus impor keramik dari Italia, berapa banyak energi yang dihabiskan.
Ini tentu tidak layak untuk menyebut gedung itu sebagai green building. Sebab, itu kan membutuhkan banyak energi hanya untuk menempel marmer di dinding,”ujarnya. Pengajar Fakultas Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB) Ridwan Kamil menyatakan,jumlah gedung hijau di Indonesia mungkin tidak lebih dari hitungan jari tangan.
Sebab, meski sang arsitek menyadari pentingnya pembangunan gedung hijau, si pemilik dan pengembang masih banyak yang belum memahami manfaat gedung itu.Bahkan,di kalangan arsitek dalam negeri pun belum semuanya menyadari tentang pentingnya gedung hijau.
”Kita (Indonesia) ini termasuk terlambat menyadari manfaat gedung hijau.Padahal, negara-negara lain sudah mengembangkan konsep tersebut. Juga menjadi paradigma baru dalam pembangunan,” paparnya. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/hijau-sepi-peminat.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment